Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan Rabu, 29 Juli 2026, dengan catatan negatif. Indeks tercatat terkoreksi sedalam 0,64%, kehilangan 39,202 poin, dan ditutup pada level 6.091,386.
Penurunan ini membawa IHSG semakin mendekati level terendah yang sempat dicapai sebelumnya. Sentimen negatif di pasar modal menjadi penyebab utama amblesnya indeks sepanjang hari.
Perdagangan pada Rabu ini diwarnai oleh aksi jual yang cukup signifikan. Sejumlah sektor terpantau mengalami pelemahan, menekan pergerakan IHSG secara keseluruhan. Bursa saham Tanah Air berfluktuasi sepanjang sesi, namun tren pelemahan terus mendominasi hingga penutupan.
Meskipun demikian, para analis pasar modal memberikan pandangan beragam mengenai prospek pergerakan IHSG ke depan. Beberapa pihak menilai koreksi ini sebagai momentum untuk melakukan akumulasi beli pada saham-saham berkualitas dengan valuasi yang menarik.
Sumber pergerakan pasar masih menjadi sorotan. Analis dari PT Phintraco Sekuritas, Valdy, dalam risetnya yang diterima pada Rabu (29/7/2026), mengemukakan bahwa IHSG berpotensi bergerak di kisaran 6.071 hingga 6.126 di tengah sentimen yang masih bergejolak.
Valdy juga menambahkan bahwa penguatan rupiah berpotensi memberikan sentimen positif pada pergerakan IHSG di tengah anjloknya harga komoditas. “Penguatan rupiah berpotensi memberikan sentimen positif terhadap pergerakan IHSG,” ujarnya.
Di sisi lain, pergerakan Indeks Dow Jones di Amerika Serikat juga turut mempengaruhi sentimen pasar global, termasuk Indonesia. Investor global masih mencermati perkembangan ekonomi makro dan kebijakan moneter dari bank sentral utama dunia.
Penting untuk dicatat bahwa pergerakan IHSG sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik domestik maupun internasional. Investor disarankan untuk terus memantau berita dan analisis pasar terkini untuk mengambil keputusan investasi yang tepat.
