Hamas mengumumkan penerimaan proposal perdamaian untuk Gaza, yang mencakup perlucutan senjata kelompok tersebut dan penarikan pasukan Israel dari wilayah itu. Langkah ini berpotensi membuka jalan bagi deeskalasi konflik yang telah berlangsung lama.
Penerimaan ini disampaikan oleh seorang pejabat Hamas kepada media pada hari Senin, menandai perkembangan signifikan dalam negosiasi yang alot. Detail spesifik mengenai jadwal dan mekanisme perlucutan senjata serta penarikan pasukan masih menjadi fokus pembicaraan lanjutan.
Pihak Hamas menyatakan bahwa mereka telah menyetujui rencana yang mengamanatkan peletakan senjata oleh para pejuangnya. Sebagai imbalannya, militer Israel diharapkan akan menarik seluruh pasukannya dari Jalur Gaza. Pernyataan ini disampaikan oleh seorang pejabat senior Hamas, yang namanya tidak disebutkan oleh sumber berita, namun menegaskan keseriusan Hamas dalam mencari solusi damai.
Perkembangan ini datang setelah berminggu-minggu negosiasi intensif yang dimediasi oleh negara-negara pihak ketiga. Mesir dan Qatar secara konsisten berperan sebagai mediator utama dalam upaya mencapai kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran sandera antara Israel dan Hamas. Meskipun demikian, rincian lengkap dari proposal perdamaian itu sendiri belum sepenuhnya diungkapkan kepada publik.
Sebelumnya, pada tanggal 6 Mei 2024, Hamas mengumumkan penerimaan proposal gencatan senjata yang diajukan oleh Mesir dan Qatar. Namun, Israel menyatakan bahwa proposal tersebut tidak memenuhi tuntutan mereka. Perbedaan pandangan ini sempat menimbulkan keraguan akan kemajuan negosiasi. Meski begitu, upaya diplomatik terus berlanjut, dengan harapan menemukan titik temu.
Penerimaan proposal terbaru oleh Hamas ini diharapkan dapat mendorong Israel untuk meninjau kembali posisinya dan melanjutkan pembicaraan. Keberhasilan implementasi kesepakatan ini akan sangat bergantung pada kemauan politik kedua belah pihak dan dukungan internasional.
