Greta Lee, aktris yang kini tengah menuai pujian atas penampilannya di film ‘The Last House’, baru-baru ini menceritakan perjuangan besar yang ia hadapi sebelum dan selama proses syuting. Ia mengaku harus menaklukkan berbagai ketakutan pribadi, bahkan tantangan fisik yang cukup berat, demi menghidupkan karakter dalam film yang digarap oleh sutradara C. Robert Cargill tersebut.
Dalam sebuah wawancara, Lee secara terbuka mengakui bahwa proyek ‘The Last House’ bukanlah perkara mudah baginya. Ia menyadari bahwa peran yang ditawarkan kepadanya akan menguji batas kemampuannya, baik secara mental maupun fisik. “Saya sangat takut pada awalnya,” ungkap Lee, menambahkan bahwa ketakutan tersebut merupakan salah satu motivasi terbesarnya untuk menerima peran tersebut.
Lebih lanjut, Lee menjelaskan bahwa ketakutan yang ia rasakan bukan hanya sekadar kegugupan biasa. Ada dimensi psikologis yang mendalam terkait dengan tema dan narasi film. Namun, ironisnya, justru rasa takut itulah yang mendorongnya untuk lebih mendalami karakternya dan memberikan penampilan terbaik. “Saya pikir, saya harus benar-benar menghadapi ini,” ujarnya.
Selain aspek mental, Lee juga harus melewati berbagai rintangan fisik yang tak kalah menantang. Meskipun detail spesifik mengenai tantangan fisik tersebut tidak diungkapkan secara rinci, ia menekankan bahwa ‘The Last House’ menuntutnya untuk berada dalam kondisi fisik prima dan siap menghadapi situasi yang mungkin berbahaya atau melelahkan. Latihan fisik dan persiapan intensif pun menjadi bagian tak terpisahkan dari prosesnya.
Perjuangan Lee ini tampaknya membuahkan hasil yang memuaskan. Penampilannya dalam ‘The Last House’ telah mendapatkan apresiasi luas dari para kritikus maupun penonton. Keberaniannya dalam menghadapi ketakutan dan komitmennya terhadap tuntutan fisik peran menjadi bukti dedikasinya sebagai seorang aktris.
