Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menegaskan bahwa upaya pembangunan di tanah Papua memerlukan kondisi yang kondusif dan damai. Pernyataan ini disampaikan Gibran saat menghadiri acara pembukaan Pesta Paduan Suara Gerejawi Nasional 2026 di Manokwari, Papua Barat, pada Sabtu, 20 Juni 2026. Ia menekankan bahwa pemerintah berkomitmen untuk pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia, termasuk di wilayah paling timur Nusantara.
Dalam sambutannya, putra Presiden Joko Widodo ini menggarisbawahi bahwa implementasi berbagai program pembangunan akan terhambat jika situasi keamanan tidak stabil. "Namun, dalam melakukan pembangunan dibutuhkan situasi yang kondusif dan damai," ujar Gibran, mengutip Kantor Berita Antara. Pandangannya ini mencerminkan realitas bahwa stabilitas adalah fondasi krusial bagi kemajuan suatu daerah.
Gibran menyoroti pergeseran fokus pembangunan yang tidak lagi hanya terpusat di Pulau Jawa. Pemerintah kini giat mendorong pembangunan di berbagai daerah, termasuk Papua. Ia memberikan contoh konkret proyek-proyek yang telah dan sedang berjalan di Papua, seperti pembangunan rumah sakit, revitalisasi jalan Trans Papua, pendirian Sekolah Rakyat, pengembangan Kampung Nelayan, serta program pemberian makan bergizi gratis (MBG).
Melalui inisiatif-inisiatif tersebut, pemerintah berharap dapat merajut kesetaraan dan mengurangi kesenjangan antarwilayah di Indonesia. Gibran menyatakan aspirasi pemerintah untuk terus memperluas akses dan meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat Papua secara signifikan.
Papua memang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan dinamika keamanan yang kompleks di Indonesia. Kehadiran kelompok bersenjata seperti Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) masih menjadi tantangan dalam upaya menjaga kedaulatan dan keamanan negara. Pemerintah pun terus berupaya menanganinya melalui pengerahan personel keamanan gabungan TNI dan Polri.
Kunjungan Gibran ke Manokwari merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja ke wilayah Indonesia Timur yang berlangsung pada 18 hingga 21 Juni 2026. Sebelumnya, ia juga telah mengunjungi Nusa Tenggara Timur dan Gorontalo. Yang menarik dari lawatan ini adalah partisipasi lima mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang turut mendampingi.
Kelima mahasiswa tersebut adalah Daffa Ulhaq dari Universitas Indonesia, Keletus Sakaro dari Universitas Sanata Dharma, Nolan Christopher Adam dari Universitas Pelita Harapan, Salsabila Maulida dari Institut Seni Budaya Indonesia, dan Rapid Bena Martin dari Universitas Jenderal Soedirman.
Gibran menjelaskan bahwa pelibatan mahasiswa ini merupakan strategi untuk memperkuat mekanisme pengawasan terhadap pelaksanaan program-program prioritas pemerintah, khususnya program makan bergizi gratis dan Koperasi Desa Merah Putih. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap berbagai aspirasi dan masukan yang telah disampaikan oleh kalangan mahasiswa mengenai implementasi program-program unggulan pemerintah.
Pelibatan mahasiswa ini dilakukan di tengah maraknya gelombang demonstrasi yang disuarakan oleh berbagai aliansi mahasiswa. Aksi-aksi ini umumnya menyampaikan kritik terhadap beberapa program pemerintah, termasuk program makan bergizi gratis dan Kopdes Merah Putih. Salah satu demonstrasi besar terjadi di Bundaran HI, Jakarta, pada Jumat, 12 Juni 2026, di mana para mahasiswa menyampaikan setidaknya lima tuntutan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang salah satunya adalah penghentian program MBG dan pembangunan Kopdes Merah Putih.
Meskipun ada kritik dan aspirasi yang disuarakan, pemerintah terus berupaya menyelaraskan program pembangunan dengan kebutuhan dan harapan masyarakat. Keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, diharapkan dapat mewujudkan pembangunan yang lebih akuntabel, transparan, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat di seluruh penjuru negeri, termasuk di tanah Papua yang kaya akan potensi namun juga memiliki tantangan tersendiri.
Kunjungan Wakil Presiden ke daerah-daerah timur ini juga menjadi momentum untuk mengevaluasi efektivitas program-program pembangunan yang telah berjalan, sekaligus menjaring masukan baru untuk perbaikan kebijakan di masa mendatang. Diskusi mengenai pentingnya perdamaian sebagai prasyarat pembangunan di Papua menjadi inti dari pesan yang disampaikan Gibran, menekankan bahwa keberhasilan pembangunan sangat bergantung pada terciptanya stabilitas sosial dan keamanan yang optimal.











