Saturday, 5 September 2026
BREAKING
LIFESTYLE

Genetik Bukan Satu-satunya Pemicu Karies Gigi Anak, Ini Kata Ahli

Oleh Muzairi M September 5, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Karies atau gigi berlubang pada anak seringkali dianggap sebagai warisan genetik semata. Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya tepat. Menurut drg. Riana Sari, Sp.KGA, karies gigi pada anak merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, bukan sekadar keturunan.

Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) pada Selasa, 19 Maret 2024, drg. Riana Sari menegaskan bahwa meskipun ada predisposisi genetik, peran lingkungan dan kebiasaan sangatlah dominan dalam pembentukan karies. “Faktor genetik memang ada, tapi bukan berarti anak yang orang tuanya punya riwayat karies pasti akan mengalami hal yang sama,” ujar drg. Riana Sari.

Ia menjelaskan bahwa bakteri dalam mulut, seperti Streptococcus mutans, adalah aktor utama dalam proses pembentukan karies. Bakteri ini mengubah karbohidrat dari makanan menjadi asam yang kemudian mengikis enamel gigi. Paparan asam yang berulang-ulang inilah yang menjadi pemicu utama gigi berlubang.

Selain bakteri, asupan makanan yang tinggi gula dan karbohidrat olahan juga menjadi santapan lezat bagi bakteri tersebut. “Kebiasaan makan yang sering ngemil makanan manis, minum susu atau jus kemasan sebelum tidur tanpa dibersihkan, itu semua memicu pertumbuhan bakteri,” tambah drg. Riana Sari.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah kebersihan mulut. Menyikat gigi secara teratur dan benar, serta penggunaan benang gigi, sangat krusial untuk menghilangkan plak dan sisa makanan yang menempel. Jika kebersihan mulut tidak terjaga, maka bakteri akan semakin leluasa berkembang biak dan menghasilkan asam.

Lebih lanjut, drg. Riana Sari menekankan pentingnya pemeriksaan gigi rutin sejak dini. “Pemeriksaan pertama sebaiknya dilakukan saat gigi pertama anak tumbuh, atau paling lambat saat usianya menginjak satu tahun,” sarannya. Dengan pemeriksaan rutin, dokter gigi dapat mendeteksi masalah sejak awal dan memberikan intervensi yang tepat.

Ia juga menyoroti peran air liur sebagai pertahanan alami gigi. Air liur membantu menetralkan asam dan memperbaiki kerusakan awal pada enamel. Namun, produksi air liur bisa berkurang akibat kondisi tertentu, yang turut meningkatkan risiko karies.

Kesimpulannya, karies gigi pada anak adalah hasil interaksi kompleks antara bakteri, pola makan, kebersihan mulut, dan faktor genetik. Oleh karena itu, pencegahan harus dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan seluruh aspek tersebut, bukan hanya mengandalkan asumsi genetik semata.

Bagikan: Facebook X WhatsApp