Jakarta – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengimbau seluruh perusahaan kelapa sawit untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Instruksi ini dikeluarkan mengingat potensi peningkatan risiko karhutla seiring dengan perubahan musim dan kondisi cuaca.
Dalam imbauannya, GAPKI menekankan pentingnya bagi perusahaan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan sarana dan prasarana pengendalian karhutla. Hal ini mencakup pemeriksaan rutin terhadap ketersediaan dan fungsi peralatan pemadam kebakaran, serta kesiapan personel yang terlatih.
Perusahaan juga diminta untuk mengintensifkan kegiatan patroli di area konsesi masing-masing. Patroli yang lebih sering dan terstruktur diharapkan dapat mendeteksi potensi titik api sejak dini dan mencegahnya meluas. Selain itu, koordinasi yang erat dengan pemerintah daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan masyarakat setempat menjadi kunci dalam menghadapi ancaman karhutla.
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, dalam keterangan resminya pada Kamis (22/2/2024) lalu, menegaskan bahwa pencegahan adalah prioritas utama. “Kita harus kembali memeriksa kesiapan seluruh sarana dan prasarana pengendalian karhutla. Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga kita sebagai pelaku usaha,” ujar Eddy Martono. Ia juga menambahkan bahwa sinergi antar perusahaan dan dengan pihak terkait lainnya akan sangat membantu dalam meminimalisir dampak karhutla.
Lebih lanjut, GAPKI mendorong perusahaan untuk terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat sekitar perkebunan mengenai bahaya karhutla dan pentingnya menjaga lingkungan. Program-program sosialisasi dan penyuluhan yang berkelanjutan diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran kolektif dalam upaya pencegahan. Kesiapsiagaan yang tinggi dan langkah-langkah proaktif dari semua pihak diharapkan dapat menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah kerugian yang lebih besar akibat karhutla.
