Keputusan pindah dari tim yang kompetitif ke tim yang sedang membangun bukan perkara mudah bagi seorang pembalap MotoGP. Fabio Di Giannantonio, yang memilih hengkang dari tim pabrikan Ducati yang terbukti mampu memenangkan balapan demi kontrak tim pabrikan KTM, mengungkapkan apa yang membuat kesepakatan tersebut begitu berharga.
Bagi Di Giannantonio, kesempatan untuk memperkuat tim pabrikan KTM, terlepas dari status Ducati saat ini sebagai motor pemenang, menawarkan prospek yang jauh lebih menarik. Ia menjelaskan bahwa memiliki motor pabrikan berarti mendapatkan dukungan penuh dari tim dan pabrikan, sesuatu yang sangat krusial dalam persaingan ketat MotoGP.
“Tentu saja, ini adalah keputusan yang harus diambil,” ujar Di Giannantonio dalam sebuah wawancara eksklusif. Ia mengakui bahwa Ducati musim ini adalah motor yang mampu meraih kemenangan, namun hal itu tidak mengaburkan pandangannya terhadap keuntungan jangka panjang yang ditawarkan oleh tim pabrikan.
Di Giannantonio membandingkan situasi ini dengan melihat gambaran yang lebih besar. “Memiliki motor pabrikan berarti kamu adalah bagian sentral dari proyek tersebut,” tambahnya. Dukungan ini mencakup pengembangan motor yang berkelanjutan, akses ke komponen terbaru, dan prioritas dalam setiap aspek teknis. Ini adalah jaminan bahwa pembalap akan terus menjadi fokus utama dalam upaya peningkatan performa.
Ia melanjutkan, “Kamu tahu bahwa kamu memiliki semua sumber daya yang tersedia untukmu.” Berbeda dengan tim satelit, di mana pembalap sering kali harus berkompromi dengan ketersediaan suku cadang atau prioritas pengembangan, tim pabrikan menjamin bahwa segala upaya akan dicurahkan untuk mendukung pembalapnya. Hal ini memberikan rasa aman dan keyakinan yang lebih besar dalam menghadapi kompetisi.
Lebih lanjut, Di Giannantonio menyoroti aspek lain dari kontrak tim pabrikan, yaitu stabilitas dan kesempatan untuk membangun masa depan. “Ini adalah kesempatan untuk membangun sesuatu yang besar, untuk menjadi bagian dari sejarah sebuah tim pabrikan,” katanya. Pengalaman dan pengetahuan yang didapat dari bekerja langsung dengan pabrikan dalam pengembangan motor akan menjadi aset berharga bagi karier balapnya di masa depan.
Meskipun mengakui bahwa saat ini Ducati mungkin memiliki keunggulan dalam hal performa hasil balapan, Di Giannantonio menekankan bahwa nilai sebuah kontrak tim pabrikan tidak hanya diukur dari kemenangan sesaat. “Ini tentang potensi, tentang dukungan, dan tentang menjadi bagian dari proyek yang serius,” simpulnya. Keputusan ini menunjukkan bahwa bagi banyak pembalap, kepastian dan dukungan penuh dari tim pabrikan sering kali lebih menggoda daripada sekadar menunggangi motor yang sedang memimpin klasemen sementara.
