Harga emas dunia diprediksi akan terus meroket dan berpotensi menembus level USD5.000 per ounce. Proyeksi ini didorong oleh ketidakpastian geopolitik global yang kian meningkat, mendorong investor untuk memindahkan sebagian besar asetnya ke instrumen safe haven seperti emas.
Analis dari PT Global Kapital Investama Berjangka, Rendra, menyatakan bahwa pergerakan harga emas global saat ini masih memiliki potensi penguatan yang signifikan. “Kondisi geopolitik saat ini memang sedang memanas. Hal ini tentu saja akan membuat investor lebih memilih aset yang dianggap aman,” ujar Rendra.
Dalam konteks domestik, lonjakan harga emas dunia ini diperkirakan akan berdampak langsung pada harga emas di Indonesia. Jika proyeksi USD5.000 per ounce tercapai, maka harga emas di tanah air bisa menyentuh angka Rp2,82 juta per gram. Angka ini merupakan kalkulasi kasar berdasarkan asumsi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat.
Rendra menambahkan bahwa faktor lain yang turut mempengaruhi pergerakan harga emas adalah kebijakan moneter bank sentral di berbagai negara. “Perubahan suku bunga acuan oleh bank sentral, terutama The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat), juga menjadi perhatian utama. Jika suku bunga turun, ini biasanya akan mendorong harga emas naik karena biaya peluang memegang emas menjadi lebih rendah,” jelasnya.
Selain itu, inflasi yang tinggi di sejumlah negara juga menjadi katalis positif bagi harga emas. Emas secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, sehingga ketika daya beli mata uang menurun, nilai emas cenderung bertahan atau bahkan meningkat.
Meskipun demikian, Rendra mengingatkan bahwa pergerakan harga emas tidak lepas dari fluktuasi. “Perlu diingat bahwa pasar komoditas selalu dinamis. Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi, termasuk sentimen pasar, likuiditas, dan pergerakan aset lain yang bersaing,” pungkasnya.
