Penutupan Selat Hormuz yang berlangsung hampir tiga bulan menimbulkan serangkaian dampak signifikan bagi perekonomian Indonesia. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengidentifikasi tiga jalur utama bagaimana dinamika di Timur Tengah tersebut merambat hingga ke tanah air. Jalur-jalur ini mencakup sektor komoditas, keuangan, dan perdagangan global.
Jalur pertama yang paling terasa adalah melalui sektor komoditas. Ketegangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah secara langsung memicu kenaikan harga berbagai komoditas, terutama minyak mentah. Kenaikan harga energi ini kemudian berimbas pada harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang terlihat dari lonjakan harga BBM non-subsidi. Implikasi lanjutan dari kenaikan harga energi ini adalah peningkatan tekanan inflasi di banyak negara.
"Di negara lain mereka sudah mulai menaikannya lama sehingga terkait dengan dampak inflasi segala macam kita melihat semua negara juga sudah mengalami tekanan ke atas (inflasi)," ujar Destry kepada CNBC Indonesia, Rabu (24/6/2026). Situasi ini menambah tantangan bagi bank sentral di seluruh dunia dalam menjaga stabilitas harga.
Menariknya, di tengah kenaikan harga minyak mentah akibat konflik, komoditas lain seperti batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO) juga mengalami lonjakan harga. Hal ini memberikan keuntungan tersendiri bagi Indonesia, yang merupakan salah satu produsen terbesar kedua komoditas tersebut di dunia. Kenaikan harga minyak mentah global mendorong pergeseran energi ke batu bara yang relatif lebih terjangkau, sehingga meningkatkan permintaan global terhadap komoditas hitam ini.
"Nah memang tadi pertama karena harga komoditi naik tapi sebenarnya juga harga komoditi ini diimbangi dengan komoditi lain yang naik juga. Misalnya batubara," jelas Destry. Potensi ini semakin diperkuat oleh pelemahan nilai tukar Rupiah yang membuat batu bara asal Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Skenario serupa juga berlaku untuk minyak kelapa sawit, di mana Indonesia memegang peran penting sebagai produsen utama.
Jalur kedua yang tak kalah penting adalah melalui sektor keuangan. Ketidakpastian global yang dipicu oleh konflik dan potensi penutupan jalur suplai energi mendorong bank sentral di berbagai negara untuk mempertahankan suku bunga acuan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, atau yang dikenal dengan kebijakan "higher for longer" dan sikap yang lebih hawkish. Kebijakan ini juga diadopsi oleh Bank Indonesia.
"Nah itu jalur keuangan yang memang akhirnya kita juga terpengaruh jadi kita juga bisa naik (suku bunga), higher for longer," kata Destry. Menanggapi kondisi ini, BI telah melakukan penyesuaian suku bunga acuan sebanyak 100 basis poin dalam satu bulan terakhir, menempatkannya di level 5,75%. Langkah ini diambil sebagai upaya proaktif untuk menjaga stabilitas moneter domestik dari gelombang ketidakpastian ekonomi global.
Peningkatan suku bunga oleh BI bertujuan untuk memperkuat daya tahan aset keuangan Indonesia dan melindungi dari potensi arus keluar modal asing. "Kenapa akhirnya kita menaikkan suku bunga itu karena kita harus meningkatkan suku bunga untuk menjaga daya tahan dari aset-aset keuangan kita," tegasnya.
Selanjutnya, jalur ketiga yang terdampak adalah perdagangan internasional, khususnya terkait dengan disrupsi rantai pasokan global. Gangguan pada jalur pengiriman barang dapat menyebabkan kenaikan biaya logistik dan produksi, yang pada akhirnya akan tercermin pada harga barang-barang konsumen. Efek ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan inflasi.
"Kemudian, jalur ketiga adalah perdagangan yang terkait dengan disrupsi rantai pasokan dalam perdagangan dunia," ungkap Destry. Ia menekankan bahwa dampak dari disrupsi perdagangan ini akan berujung pada inflasi akibat tingginya biaya barang. "Jadi itu juga tentunya menjadi kewaspadaan buat kita karena nanti ini pasti akan tercermin juga di inflasi."
Oleh karena itu, kebijakan pengetatan moneter melalui kenaikan suku bunga oleh bank sentral, termasuk BI, merupakan langkah strategis untuk mengendalikan inflasi agar tetap berada dalam kisaran target. BI menargetkan inflasi berada di rentang 2,5% plus minus 1%. "Oleh karena itu kenapa kita juga kemarin naikkan suku bunga. Kita juga tentunya forward looking supaya kita bisa menjaga inflasi kita yang kita targetkan dua setengah plus minus satu persen itu bisa tetap dalam range itu," pungkasnya.
Situasi geopolitik di Timur Tengah, yang berujung pada penutupan Selat Hormuz, menjadi pengingat krusial akan keterkaitan erat perekonomian global. Indonesia, sebagai negara dengan keterlibatan signifikan dalam perdagangan dan pasar komoditas internasional, harus terus waspada dan adaptif terhadap dinamika yang terjadi di berbagai belahan dunia. Upaya BI dalam menjaga stabilitas moneter dan keuangan menjadi garda terdepan dalam memitigasi dampak negatif dari guncangan eksternal tersebut.











