Wali Kota New York Zohran Mamdani Bela Diri, Tegaskan Kritik Bukan Antisemit

Heni Maulidya

Wali Kota New York Zohran Mamdani angkat bicara menanggapi tuduhan antisemit yang dilayangkan kepadanya, menyusul kritik kerasnya terhadap Komite Urusan Publik Israel Amerika (American Israel Public Affairs Committee/AIPAC). Mamdani menegaskan bahwa posisinya terhadap AIPAC didasarkan pada pandangannya bahwa organisasi tersebut secara aktif mendukung pendudukan Israel di Palestina dan mempertahankan status quo yang merugikan stabilitas kawasan.

"Ketika saya berbicara soal AIPAC, saya bicara soal organisasi yang mendukung status quo, yang telah menentang setiap upaya untuk benar-benar memberikan keamanan kepada orang-orang, tidak hanya di Palestina, tetapi terus terang, di sebagian besar wilayah tersebut, dan itu adalah status quo untuk ketidakmoralan," jelas Mamdani dalam sebuah pernyataan yang dikutip CNN, Senin (23/6). Ia menambahkan bahwa cara AIPAC mempertahankan status quo tersebut seringkali melalui kontribusi finansial langsung, yang dampaknya terasa dalam kancah politik domestik, termasuk di New York.

Komentar Mamdani ini merupakan respons langsung terhadap kritik dari para pemimpin Yahudi yang menilai pernyataannya mengenai AIPAC saat kampanye pemilihan umum lalu dianggap berlebihan. Mamdani mengkritik AIPAC karena mengucurkan jutaan dolar untuk mendukung kandidat-kandidat pro-Israel dalam pemilihan pendahuluan Kongres tahun ini. Ia menyoroti pola AIPAC yang kerap menggunakan iklan yang lebih fokus pada isu-isu domestik ketimbang kebijakan luar negeri, sebagai strategi untuk mempertahankan pengaruhnya.

"Mereka memindahkan jutaan uang gelap untuk mencapai satu tujuan, yaitu mempertahankan kekuasaan mereka, sehingga mereka bisa membuat kita saling bermusuhan, alih-alih para pemimpin kita beralih ke perubahan moral yang kita semua tahu sangat diperlukan," ujar Mamdani, menggarisbawahi kekhawatirannya terhadap penggunaan dana politik dalam memanipulasi opini publik dan menciptakan polarisasi.

Data dari Komisi Pemilihan Federal (Federal Election Commission) menunjukkan bahwa super PAC AIPAC bersama dengan Democracy Project telah memberikan dua sumbangan politik dengan total lebih dari US$600 ribu, setara dengan Rp10,7 miliar, kepada BOLD America. Dana ini diketahui digunakan untuk mendanai iklan yang mendukung kandidat anggota Kongres Adriano Espaillat, yang merupakan lawan dari kandidat yang didukung oleh Mamdani, Darializa Avila Chevalier.

Menyikapi hal ini, para pemimpin dari organisasi seperti Anti Defamation League dan American Jewish Committee (AJC) langsung mengutuk pernyataan Mamdani. Mereka menuding Mamdani menggunakan kiasan yang bernuansa antisemit dan memperingatkan akan bahaya bahasa semacam itu, terutama karena diucapkan oleh seorang walikota kota yang memiliki populasi Yahudi terbesar di luar Israel.

Ted Deutch, CEO AJC, secara tegas menyatakan keprihatinannya. "Walikota Mamdani, menyebut sesama warga New York sebagai ‘monster’ adalah tindakan yang keterlaluan dan berbahaya, dan dampak dari kata-kata Anda meluas jauh melampaui politik," tegasnya, menyoroti potensi dampak negatif yang lebih luas dari retorika politik yang menyasar kelompok tertentu.

Dalam konteks ini, penting untuk memahami peran AIPAC dalam lanskap politik Amerika Serikat. Sebagai salah satu lobi pro-Israel paling berpengaruh, AIPAC secara konsisten berupaya membentuk kebijakan luar negeri AS terkait Israel. Organisasi ini dikenal aktif dalam mendukung kandidat-kandidat yang sejalan dengan pandangan mereka dan mengkritik atau menentang mereka yang dianggap tidak. Pendekatan ini seringkali memicu perdebatan sengit, baik di dalam komunitas Yahudi sendiri maupun di kalangan masyarakat luas, mengenai batasan antara dukungan terhadap Israel dan kritik terhadap kebijakan pemerintahannya.

Fenomena pengucuran dana kampanye oleh kelompok kepentingan seperti AIPAC bukanlah hal baru dalam politik Amerika. Super PAC, atau Political Action Committee, memungkinkan organisasi untuk mengumpulkan dan membelanjakan dana tak terbatas untuk kampanye politik, meskipun mereka tidak dapat berkontribusi langsung kepada kandidat. Penggunaan dana besar ini seringkali menjadi sorotan karena dapat memberikan keuntungan signifikan bagi kandidat yang didukung, sekaligus menimbulkan kekhawatiran tentang pengaruh uang dalam politik dan potensi rusaknya proses demokrasi.

Kritik Mamdani terhadap AIPAC dapat dilihat sebagai bagian dari perdebatan yang lebih luas mengenai kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah, serta dinamika internal dalam komunitas Yahudi Amerika. Sebagian anggota komunitas Yahudi merasa bahwa kritik terhadap Israel, terutama jika dianggap berlebihan atau menggunakan retorika yang dapat disalahartikan, berisiko membahayakan keamanan dan kesejahteraan komunitas Yahudi di seluruh dunia. Di sisi lain, semakin banyak suara, termasuk dari kalangan Yahudi muda, yang merasa perlu untuk mengkritik kebijakan Israel, terutama terkait isu Palestina, demi menjunjung nilai-nilai keadilan dan hak asasi manusia.

Situasi ini juga menyoroti kompleksitas identitas dan politik di kota metropolitan seperti New York, yang memiliki keragaman etnis dan agama yang tinggi. Sebagai walikota, Mamdani berada di garis depan dalam menavigasi isu-isu sensitif yang dapat memicu ketegangan antar komunitas. Tanggapannya terhadap tuduhan antisemit menunjukkan upayanya untuk membela diri sekaligus mengartikulasikan kembali posisinya, menekankan bahwa kritiknya ditujukan pada kebijakan dan tindakan organisasi, bukan pada individu atau kelompok agama tertentu.

Perdebatan mengenai AIPAC dan kritik terhadapnya kemungkinan akan terus berlanjut, mencerminkan perpecahan pandangan yang ada dalam isu kebijakan luar negeri AS terkait Israel dan Palestina. Reaksi dari berbagai pihak, termasuk pemimpin agama dan politisi, menunjukkan betapa sensitifnya isu ini dan dampaknya terhadap diskursus politik di Amerika Serikat.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All