Friday, 10 July 2026
BREAKING
LIFESTYLE

Bukan Sekadar Manis: Menkes Ungkap Pemanis Buatan di Minuman ‘Zero Sugar’ Picu Lapar

Oleh Muzairi M June 19, 2026 3 weeks lalu 0 komentar

Minuman berlabel "zero sugar" atau bebas gula kerap diburu sebagai alternatif lebih sehat bagi para pencari gaya hidup minim kalori. Namun, di balik label menjanjikan tersebut, tersimpan potensi yang tak terduga. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin baru-baru ini membongkar sisi lain dari minuman manis tanpa gula ini, mengungkapkan bahwa pemanis buatan yang digunakan justru berpotensi memicu rasa lapar.

Penjelasan ini disampaikan langsung oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @bgsadikin, pada Minggu, 26 April 2026. Ia memaparkan bahwa rasa manis pada minuman zero sugar tidak datang dari gula pasir biasa, melainkan dari pemanis buatan. Bahan-bahan seperti aspartam, sukralosa, dan sakarin adalah beberapa jenis pemanis buatan yang umum digunakan.

Tingkat kemanisan yang dihasilkan oleh pemanis buatan ini sangatlah superior dibandingkan gula pasir. "Sejumput kecil saja bisa memberikan rasa manis berkali-kali lipat lebih manis daripada gula pasir biasa," ujar Budi Gunadi Sadikin dalam unggahannya. Keunggulan inilah yang memungkinkan minuman tersebut tetap terasa manis meskipun tidak mengandung tambahan gula sama sekali.

Meskipun tidak ada gula yang masuk ke dalam tubuh, otak tetap merespons sinyal rasa manis yang diterima oleh lidah. Ketika lidah mendeteksi rasa manis, otak secara otomatis mengantisipasi asupan energi dari gula. Namun, karena gula tersebut tidak pernah benar-benar hadir dalam bentuk yang dapat diproses oleh tubuh, otak justru akan mengirimkan sinyal kebalikan: rasa lapar.

"Ternyata gulanya nggak masuk-masuk ke perut. Akibatnya, rasa laparnya keluar terus," jelas Budi. Fenomena ini dapat menciptakan siklus yang berujung pada peningkatan keinginan untuk mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung gula. Alih-alih membantu mengendalikan asupan gula, minuman zero sugar justru berpotensi memicu konsumsi berlebih.

Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa minuman yang diklaim rendah gula atau zero sugar namun menggunakan pemanis buatan perlu dicermati dengan lebih kritis. Ia bahkan menyamakan efek pemanis buatan ini dengan "sihir" karena kemampuannya menipu persepsi rasa tubuh manusia.

Lebih lanjut, Menteri Kesehatan menyatakan akan memberikan label peringatan khusus untuk produk-produk semacam ini. "Kalau ada minuman yang kadar gulanya rendah atau katanya zero sugar tetapi memakai pemanis buatan, akan langsung saya label C atau D," tegasnya. Pemberian label ini diharapkan dapat menjadi panduan yang lebih jelas bagi masyarakat dalam memilih produk yang benar-benar aman dan sesuai dengan kebutuhan kesehatan mereka.

Pernyataan ini menjadi pengingat penting bahwa klaim "rendah gula" atau "bebas gula" tidak selalu berarti produk tersebut sepenuhnya bebas dari dampak negatif bagi kesehatan. Pemahaman mendalam mengenai komposisi dan cara kerja bahan-bahan di dalamnya menjadi kunci untuk menjadi konsumen yang cerdas.

Dalam konteks ini, Menteri Kesehatan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk lebih bijak dalam memilih minuman sehari-hari. Penting untuk tidak hanya terpaku pada label depan produk, tetapi juga memahami kandungan nutrisi di baliknya. Membaca informasi pada kemasan dan mencari tahu lebih lanjut tentang bahan-bahan yang digunakan dapat membantu masyarakat membuat keputusan yang lebih tepat.

Mengadopsi kebiasaan konsumsi yang lebih sadar dapat berkontribusi signifikan terhadap pencegahan berbagai penyakit degeneratif yang seringkali berkaitan dengan pola makan tinggi gula. Dengan informasi yang akurat dan kesadaran yang meningkat, masyarakat dapat terhindar dari jebakan manis yang ditawarkan minuman zero sugar dan memilih opsi yang lebih mendukung kesehatan jangka panjang.

Kementerian Kesehatan terus berupaya mengedukasi masyarakat mengenai pola makan sehat dan gizi seimbang. Kampanye kesadaran mengenai bahaya konsumsi gula berlebih dan pemanfaatan pemanis buatan secara bijak menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Diharapkan, dengan pengetahuan yang semakin luas, masyarakat dapat membuat pilihan yang lebih baik demi kesehatan diri dan keluarga.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait