Buah Naga Organik Banyuwangi Terbang ke Singapura dan Hong Kong, Petani Raih Omzet Miliaran Rupiah

Yohanes

Banyuwangi, Jawa Timur – Buah naga organik dari Banyuwangi, Jawa Timur, kini tidak hanya menghiasi pasar domestik tetapi juga telah menembus pasar internasional, dengan tujuan ekspor hingga ke Singapura dan Hong Kong. Keberhasilan ini tidak lepas dari peran aktif Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) yang memberikan pendampingan komprehensif kepada kelompok petani di Sumbermulyo, Banyuwangi, untuk memperkuat kapasitas produksi dan memperluas jangkauan pasar mereka. Inisiatif ini merupakan bagian integral dari Program Desa Sejahtera Astra yang bertujuan nyata untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di berbagai daerah.

Rahmat Samulo, Ketua Yayasan Astra-YDBA, menjelaskan bahwa pendampingan ini difokuskan pada peningkatan kualitas dan standar produk agar mampu bersaing di pasar global. Melalui Pusat Pendampingan UMKM (PPU) yang didirikan, Kelompok Tani Sinar Cabe di Sumbermulyo mendapatkan beragam pelatihan intensif. Pelatihan tersebut mencakup transformasi metode penanaman menjadi organik sepenuhnya, bebas dari bahan kimia berbahaya, serta teknik pembuatan pupuk mandiri yang ramah lingkungan. Selain itu, petani juga dilatih dalam sistem sortir hasil panen yang ketat, sesuai dengan standar Quality, Cost, dan Delivery (QCD) yang diterapkan di pasar modern, baik lokal maupun mancanegara.

"Tujuan utama kami adalah memastikan petani mampu menghasilkan buah naga dengan standar kualitas, biaya yang efisien, dan proses pengiriman yang memenuhi ekspektasi pasar modern, baik di dalam maupun luar negeri," ujar Rahmat Samulo kepada awak media pada Kamis (25/6). Ia menambahkan bahwa YDBA juga bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan petani dengan para pembeli. Jaringan pembeli ini meliputi supermarket dan industri perhotelan di dalam negeri, hingga pasar ekspor yang menjanjikan di luar negeri.

Fasilitasi pasar ini sangat krusial agar para petani tidak lagi bekerja sendiri, melainkan dapat menjadi bagian integral dari rantai pasok ekosistem produk buah naga dan berbagai turunannya. Dengan demikian, mereka memiliki akses langsung ke pasar yang lebih luas dan tidak tergantung pada tengkulak. Model pendampingan holistik ini telah terbukti memberdayakan petani secara signifikan, memberikan mereka posisi tawar yang jauh lebih baik dalam menentukan harga jual produk.

Sumartini, Ketua Kelompok Tani Sinar Cabe Sumbermulyo, mengakui bahwa pendampingan dari Yayasan Astra-YDBA telah membawa perubahan fundamental bagi kelompoknya. "Dulu, kami hanya bisa menerima harga yang diberikan pasar, berapa pun kualitas buah naga kami. Sekarang, dengan pelatihan yang kami dapatkan, kami bisa menentukan harga sendiri," jelas Sumartini. Ia menceritakan bahwa saat ini, kelompoknya sudah menerapkan sistem penyortiran buah naga berdasarkan kualitas. Buah naga kualitas A dan B diprioritaskan untuk pasar ekspor, supermarket, dan hotel, sementara sisanya dipasarkan ke pasar tradisional.

Data dari Yayasan Astra-YDBA menunjukkan bahwa kinerja ekspor Kelompok Tani Sinar Cabe sangat membanggakan. Sepanjang periode 2022 hingga 2025, kelompok ini berhasil mengekspor total 6,8 ton buah naga segar ke Singapura dan Hong Kong melalui kerja sama dengan PT Nusa Tropical Indonesia. Selain buah segar, YDBA juga memfasilitasi diversifikasi produk olahan buah naga. Sejak Maret 2024, Kelompok Tani Sinar Cabe menjalin kemitraan dengan PT Oreng Osing untuk memproduksi Sale Buah Naga, dengan total pesanan mencapai 20 ton. Tak hanya itu, produk olahan buah kering juga dipasarkan di pasar domestik melalui Herbor.id, yang mencatatkan penjualan 350 kg sejak September 2024.

Transformasi ke metode penanaman organik juga memberikan dampak positif pada kualitas dan daya tahan buah naga. Sumartini menyoroti bahwa buah naga organik hasil panen kelompoknya memiliki harga jual yang lebih tinggi dan jauh lebih tahan lama, tidak mudah busuk dibandingkan dengan metode konvensional. Kualitas yang terjaga ini menjadi kunci utama dalam memenuhi standar ketat pasar ekspor dan ritel modern.

Dengan total sekitar 30 petani yang tergabung dan luas lahan mencapai 9,2 hektare, Kelompok Tani Sinar Cabe mampu menghasilkan antara 25 hingga 45 ton buah naga setiap bulannya. Volume produksi yang konsisten ini, dipadukan dengan strategi pemasaran yang efektif, telah mendongkrak omzet petani secara signifikan. "Untuk omzet, per minggu kami bisa mencapai Rp30 juta hingga Rp32 juta, tergantung jenis dan varietas buah naga yang dihasilkan," ungkap Sumartini, menggambarkan betapa pesatnya peningkatan kesejahteraan yang dialami para petani. Angka ini mencerminkan potensi ekonomi yang luar biasa dari sektor pertanian jika dikelola dengan pendekatan yang tepat dan berkelanjutan.

Salah satu inovasi penting lainnya yang diperkenalkan YDBA adalah pemanfaatan buah naga yang sebelumnya dianggap "rusak minor" atau tidak lolos sortir pasar segar. Dulu, buah-buah ini hanya diolah menjadi pupuk, namun kini, berkat fasilitasi YDBA dengan perusahaan olahan buah naga, buah yang tidak diterima pasar tetap memiliki nilai jual. "Sekarang, daging buahnya bisa diolah menjadi selai, dodol, atau sirop. Kulitnya baru kami gunakan sebagai pupuk organik," papar Sumartini. Ini adalah langkah maju dalam meminimalkan limbah dan memaksimalkan nilai ekonomi dari setiap hasil panen, menciptakan ekosistem pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Keberhasilan Kelompok Tani Sinar Cabe di Banyuwangi menjadi bukti nyata bahwa dengan pendampingan yang tepat, petani lokal mampu tidak hanya meningkatkan kualitas produk mereka tetapi juga menembus pasar global yang kompetitif. Model kolaborasi antara yayasan, petani, dan industri ini diharapkan dapat direplikasi di daerah lain, membuka peluang baru bagi peningkatan kesejahteraan petani di seluruh Indonesia dan memperkuat posisi produk pertanian Tanah Air di kancah internasional.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All