Pergerakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi sorotan utama bagi para pelaku pasar investasi. Perubahan ini diprediksi akan memberikan dampak signifikan terhadap arah pergerakan berbagai instrumen investasi, termasuk reksa dana. Memahami dinamika BI Rate menjadi kunci penting dalam merancang strategi investasi yang efektif.
MotionTrade, platform edukasi investasi, membagikan tips jitu bagi investor reksa dana untuk mengantisipasi dan memanfaatkan perubahan BI Rate. Menurut Co-Founder & CEO MotionTrade, Muhammad Alfian, investor perlu memahami bahwa kenaikan BI Rate berpotensi memicu tren penurunan pada pasar saham dan obligasi. Hal ini dikarenakan, imbal hasil instrumen investasi lain seperti deposito atau surat utang negara (SUN) menjadi lebih menarik dibandingkan reksa dana.
“Kalau suku bunga acuan BI naik, biasanya pasar saham dan obligasi cenderung turun. Kenapa turun? Karena instrumen yang lebih aman seperti deposito atau SUN itu imbal hasilnya jadi lebih tinggi,” jelas Alfian dalam acara Edufest 2023 yang diselenggarakan oleh The Indonesia Project, Sabtu (28/10/2023).
Sebaliknya, ketika BI Rate mengalami penurunan, Alfian memprediksi pasar saham dan obligasi akan cenderung bergerak positif. Investor akan cenderung memindahkan dananya dari instrumen yang lebih aman, seperti deposito, ke instrumen yang berpotensi memberikan imbal hasil lebih tinggi, seperti saham dan obligasi. “Saat suku bunga acuan BI turun, pasar saham dan obligasi cenderung naik. Ini karena investor akan mencari imbal hasil yang lebih tinggi dan memindahkan dananya dari instrumen yang lebih aman,” imbuhnya.
Oleh karena itu, MotionTrade menyarankan investor reksa dana untuk melakukan analisis lebih mendalam terhadap potensi perubahan BI Rate. Investor disarankan untuk memantau kebijakan moneter Bank Indonesia secara berkala dan mempertimbangkan dampaknya terhadap alokasi aset portofolio reksa dana mereka. Strategi diversifikasi juga menjadi krusial untuk memitigasi risiko yang mungkin timbul akibat fluktuasi suku bunga.
