Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2026 akan melambat, diperkirakan hanya mencapai 3%. Proyeksi ini didasari oleh meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan internasional, salah satunya dipicu oleh eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan pandangan ini dalam sebuah forum yang diselenggarakan di Jakarta pada hari Selasa, 23 Mei 2023. Beliau menggarisbawahi bahwa situasi geopolitik yang memanas, terutama di kawasan Timur Tengah, memberikan tekanan signifikan terhadap prospek ekonomi dunia.
Menurut Perry, perang yang sedang berlangsung telah menimbulkan berbagai dampak negatif. “Eskalasi perang di Timur Tengah ini adalah salah satu faktor utama yang kami cermati, yang berpotensi memperlemah pertumbuhan ekonomi global ke depan,” ujar Perry dalam keterangannya.
Lebih lanjut, BI juga menyoroti adanya risiko lain yang turut mempengaruhi proyeksi pertumbuhan ekonomi global. Kenaikan suku bunga acuan di negara-negara maju menjadi salah satu perhatian utama. Kebijakan pengetatan moneter ini, menurut BI, dapat membatasi ruang gerak pertumbuhan ekonomi di berbagai negara, termasuk negara berkembang.
Selain itu, gejolak di pasar keuangan internasional juga menjadi catatan penting. Ketidakpastian yang tinggi dapat memicu volatilitas di pasar modal, mempengaruhi aliran investasi, dan pada akhirnya berdampak pada aktivitas ekonomi riil secara global. BI terus memantau perkembangan ini secara seksama untuk mengantisipasi dampaknya terhadap perekonomian Indonesia.
Meskipun menghadapi tantangan global yang cukup berat, BI tetap berupaya menjaga stabilitas perekonomian domestik. Upaya ini dilakukan melalui berbagai kebijakan yang terukur, termasuk dalam pengelolaan inflasi dan penguatan sektor keuangan. Proyeksi 3% untuk pertumbuhan ekonomi global di tahun 2026 menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan dan adaptasi dalam menghadapi dinamika ekonomi dunia yang kompleks.
