Bursa Efek Indonesia (BEI) menyambut baik potensi positif dari keputusan penghapusan batas harga minimum saham menjadi Rp1 per lembar. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dan daya tarik pasar saham domestik di mata investor asing, termasuk dalam penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Direktur Utama BEI, Iman Karli, menyatakan keyakinannya bahwa kebijakan yang mulai berlaku efektif pada 25 Maret 2024 ini akan diterima dengan baik. “Kami optimistis MSCI akan melihat ini sebagai langkah yang positif,” ujar Iman dalam keterangannya.
Penghapusan batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 ini merupakan respons BEI terhadap masukan dan dinamika pasar. Tujuannya adalah untuk memberikan fleksibilitas lebih besar dalam perdagangan saham, terutama bagi saham-saham dengan kapitalisasi pasar kecil atau yang baru saja melantai di bursa. Dengan dihapuskannya batas bawah, saham-saham tersebut berpotensi untuk diperdagangkan lebih aktif, yang pada gilirannya dapat meningkatkan likuiditas pasar secara keseluruhan.
Iman Karli menambahkan bahwa keputusan ini telah melalui kajian mendalam dan diharapkan mampu mendorong pertumbuhan pasar modal Indonesia. “Ini adalah upaya kami untuk terus menyempurnakan regulasi demi kemajuan pasar modal Indonesia,” jelasnya.
BEI juga menegaskan bahwa penghapusan batas harga minimum ini tidak serta merta akan memicu aksi jual atau keluarnya modal asing dari pasar domestik. Sebaliknya, likuiditas yang meningkat diharapkan justru akan menarik lebih banyak investor, baik domestik maupun internasional. MSCI, sebagai penyedia indeks acuan global, kerap mempertimbangkan faktor-faktor seperti likuiditas pasar dan kemudahan akses bagi investor asing dalam melakukan rebalancing indeksnya.
Penyesuaian regulasi ini diharapkan dapat memberikan landasan yang lebih kuat bagi BEI untuk terus meningkatkan posisinya di kancah pasar modal global. Dengan adanya fleksibilitas harga yang lebih luas, saham-saham yang sebelumnya mungkin kurang likuid kini memiliki peluang untuk diperdagangkan secara lebih efisien, yang merupakan salah satu indikator penting bagi lembaga pemeringkat indeks seperti MSCI.
