Banjir bandang dahsyat menerjang desa-desa di lembah Nepal dan Tibet, menyapu bersih permukiman warga dengan volume air yang sangat besar dan bergerak cepat. Kejadian tragis ini berasal dari luapan air yang turun dari Pegunungan Himalaya.
Bencana alam tersebut terjadi pada hari Minggu, 15 Oktober 2023. Menurut laporan awal, sedikitnya 10 orang dilaporkan tewas dalam peristiwa ini. Kerusakan infrastruktur dilaporkan sangat parah, menghancurkan rumah-rumah warga dan fasilitas umum lainnya.
Kondisi geografis lembah yang sempit memperparah dampak banjir bandang. Arus deras air mampu meruntuhkan bangunan dan menyeret material apa pun yang dilaluinya. Petugas penyelamat gabungan dari Nepal dan Tibet segera diterjunkan ke lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi dan pencarian korban. Tim SAR menghadapi medan yang sulit dan cuaca yang tidak bersahabat.
Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Nepal, peningkatan curah hujan yang signifikan dalam beberapa hari terakhir menjadi pemicu utama terjadinya banjir bandang ini. “Kami mencatat peningkatan curah hujan hingga 300% di beberapa wilayah pegunungan,” ujar seorang perwakilan dari Badan Meteorologi Nepal. Intensitas hujan yang tinggi ini menyebabkan luapan air di sungai-sungai yang berhulu di Himalaya.
Menteri Dalam Negeri Nepal, Narayan Kaji Shrestha, menyatakan prihatin atas musibah ini dan menjanjikan bantuan maksimal bagi para korban. “Pemerintah Nepal akan mengerahkan segala sumber daya yang ada untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana ini. Prioritas utama kami adalah penyelamatan korban dan pemulihan pasca-bencana,” tegasnya dalam konferensi pers di Kathmandu.
Pihak berwenang di Tibet juga mengonfirmasi adanya kerusakan serupa di wilayah perbatasan. Upaya koordinasi antara Nepal dan Tiongkok terus dilakukan untuk penanganan banjir bandang ini. Bantuan logistik seperti makanan, air bersih, dan tenda darurat mulai dikirimkan ke lokasi bencana. Namun, akses menuju beberapa desa terisolir masih terputus akibat longsor dan jembatan yang roboh.
