Badai Tropis Ancam Jepang: 120 Penerbangan Dibatalkan, Evakuasi Massal Dimulai

Heni Maulidya

Jepang menghadapi potensi ancaman serius dari dua badai tropis yang bergerak menuju kepulauan tersebut, memaksa sejumlah maskapai membatalkan sekitar 120 penerbangan pada Jumat (26/6). Otoritas setempat juga telah mengeluarkan imbauan evakuasi di berbagai wilayah karena kekhawatiran akan banjir bandang dan tanah longsor. Situasi ini menyoroti kerentanan Jepang terhadap fenomena cuaca ekstrem yang dapat mengganggu aktivitas vital dan membahayakan keselamatan warga.

Badai tropis kuat Mekkhala, yang sebelumnya sempat berstatus topan, dilaporkan masih membawa embusan angin kencang hingga kecepatan 144 kilometer per jam. Hujan deras telah mengguyur sebagian besar wilayah Jepang bagian selatan dan barat, menambah kekhawatiran akan dampak lanjutan. Prakiraan cuaca menyebutkan bahwa sistem badai ini diperkirakan akan melintasi area dekat pulau Kyushu dan Shikoku pada akhir pekan.

Potensi dampak semakin kompleks karena Mekkhala berpeluang bertemu dengan badai tropis Higos yang saat ini berada di Samudra Pasifik. Interaksi antara kedua badai ini dapat memicu fenomena atmosfer yang dikenal sebagai "efek Fujiwhara". Efek ini membuat pergerakan dan kekuatan badai menjadi lebih sulit diprediksi, sehingga meningkatkan tingkat ketidakpastian dan kewaspadaan bagi pihak berwenang.

Menanggapi kondisi ini, maskapai besar seperti Japan Airlines dan All Nippon Airways terpaksa membatalkan total 120 penerbangan. Pembatalan tersebut mencakup rute dari dan menuju wilayah selatan Jepang, khususnya Okinawa dan Kagoshima, yang diperkirakan menjadi zona terdampak langsung. Langkah ini diambil demi mengutamakan keselamatan penumpang dan awak pesawat di tengah cuaca yang tidak menentu.

Selain gangguan transportasi udara, ancaman fisik juga nyata dirasakan oleh masyarakat di daratan. Pemerintah wilayah Kyoto telah mengimbau ribuan warga untuk segera mengungsi demi menghindari risiko tanah longsor. Laporan dari stasiun televisi publik NHK menampilkan gambar sungai-sungai yang meluap dengan air berwarna cokelat dan arus yang sangat deras, menggambarkan potensi bahaya banjir yang mengintai.

Pejabat di Kyoto dan Osaka juga melaporkan peningkatan permukaan air di sejumlah sungai, yang secara langsung memperingatkan masyarakat untuk selalu waspada terhadap ancaman banjir. Intensitas hujan yang tinggi berpotensi menyebabkan luapan air yang signifikan dan merusak infrastruktur serta permukiman warga.

Dampak buruk dari cuaca ekstrem ini juga merambah sektor industri. Produsen otomotif terkemuka, Toyota, terpaksa menghentikan sementara operasional salah satu pabriknya di Kyushu. Keputusan ini diambil menyusul penutupan jalan yang disebabkan oleh hujan deras, sehingga menghambat logistik dan mobilitas karyawan. Laporan dari Kyodo News juga menyebutkan bahwa Nissan berencana melakukan langkah serupa, menghentikan sementara sejumlah lini produksinya demi keselamatan tenaga kerja.

Bahkan, sektor pertahanan pun tidak luput dari pengaruh cuaca buruk ini. Militer Jepang mengumumkan pembatalan penerbangan perdana pesawat angkut V-22 Osprey menuju Pulau Miyako. Penerbangan tersebut seharusnya menjadi bagian dari latihan gabungan dengan Amerika Serikat, namun terpaksa ditunda demi keselamatan operasional.

Situasi serupa juga dilaporkan terjadi di Taiwan. Lebih dari 1.600 warga terpaksa dievakuasi dari rumah mereka. Sekolah dan perkantoran di beberapa wilayah ditutup sebagai langkah antisipasi setelah badai Mekkhala memicu hujan yang sangat lebat, banjir, dan tanah longsor di berbagai daerah. Curah hujan yang tercatat oleh badan meteorologi Taiwan mencapai 88 sentimeter sejak Kamis, menunjukkan intensitas badai yang luar biasa.

Meskipun hingga berita ini diturunkan belum ada laporan korban jiwa, otoritas Taiwan tetap menyiagakan peringatan dini. Potensi aliran material longsor yang berbahaya di wilayah pegunungan Kabupaten Hualien di bagian timur, serta di Kaohsiung dan Pingtung di selatan, menjadi perhatian utama. Seorang pejabat setempat mengungkapkan bahwa puluhan warga yang bermukim di hilir sebuah danau bendungan alami yang baru terbentuk di kawasan pegunungan Hualien telah memilih untuk meninggalkan kediaman mereka. Beberapa layanan kereta api juga terpaksa dihentikan sementara guna menghindari risiko kecelakaan.

Fenomena cuaca ekstrem seperti ini semakin menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana, terutama di wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Interaksi badai yang kompleks dan intensitas hujan yang tinggi memerlukan respons cepat dari pemerintah dan kesadaran penuh dari masyarakat untuk menjaga keselamatan bersama.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All