Asosiasi Pengusaha Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) menginisiasi pembentukan skema konsorsium untuk pembangunan dan penataan infrastruktur fiber optik. Langkah ini diambil pasca Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) II yang memperkuat soliditas organisasi. Tujuannya adalah untuk menekan biaya relokasi kabel serat optik serta mempercepat terwujudnya infrastruktur digital nasional yang merata.
Ketua Umum Apjatel, Jerry Sambuaga, menyatakan bahwa pembentukan konsorsium ini merupakan respons terhadap kebutuhan mendesak akan penataan kabel yang semakin masif. “Kami melihat kebutuhan penataan kabel ini semakin masif, dan dengan adanya konsorsium ini kami berharap bisa menekan biaya relokasi fiber optik,” ujar Jerry dalam keterangan resminya.
Jerry menjelaskan, skema konsorsium ini diharapkan dapat mendorong efisiensi dalam setiap proyek pembangunan dan relokasi jaringan fiber optik. Dengan berbagi sumber daya dan biaya, para anggota Apjatel dapat beroperasi lebih efektif. Hal ini juga sejalan dengan target pemerintah dalam mempercepat transformasi digital di seluruh Indonesia.
Lebih lanjut, Jerry menekankan bahwa inisiatif ini bukan hanya tentang efisiensi biaya, tetapi juga tentang standarisasi dan peningkatan kualitas infrastruktur digital. Melalui kolaborasi, perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Apjatel dapat saling berbagi teknologi terkini dan praktik terbaik dalam pemasangan serta pemeliharaan jaringan fiber optik.
Apjatel optimis bahwa dengan adanya skema konsorsium ini, proses penataan kabel akan berjalan lebih terkoordinasi dan efisien. Hal ini diharapkan dapat memperlancar implementasi berbagai program digitalisasi nasional, mulai dari penyediaan akses internet cepat hingga pengembangan layanan digital di berbagai sektor.
Presiden Direktur PT Transkabel Media, Dedy Sudaryono, yang turut hadir dalam diskusi, memberikan pandangannya. Ia menyampaikan bahwa skema konsorsium ini sangat relevan dengan kondisi saat ini. “Ini adalah momen yang tepat untuk kita bersinergi. Dengan adanya konsorsium, kita bisa punya kekuatan lebih untuk negosiasi, baik dengan pemerintah daerah maupun dengan pihak-pihak lain yang terkait dalam penataan kabel,” kata Dedy.
Dedy menambahkan, kolaborasi dalam bentuk konsorsium ini juga membuka peluang untuk inovasi baru dalam teknologi fiber optik dan metode instalasi yang lebih efisien serta ramah lingkungan. Ia juga berharap agar pemerintah dapat memberikan dukungan yang memadai bagi skema konsorsium ini, sehingga dapat berjalan lancar dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan infrastruktur digital Indonesia.
