Tuesday, 18 August 2026
BREAKING
EKONOMI

Ancaman Perang AS-Iran Picu Kekhawatiran Lonjakan Harga Minyak Dunia

Oleh Yohanes August 18, 2026 59 minutes lalu 0 komentar

Harga minyak mentah dunia diprediksi akan melonjak tajam, menyusul kebuntuan negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Ketegangan yang meningkat di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global, telah membuat lalu lintas kapal tanker terhambat sejak Senin (17/8/2026).

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak global. Selat Hormuz merupakan titik strategis yang dilalui sekitar 20% minyak mentah dunia setiap harinya. Setiap gangguan di jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga yang signifikan, mengingat tingginya permintaan energi dunia.

Pemerintah AS telah menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi ini. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, John Smith, dalam konferensi persnya pada Selasa (18/8/2026), menegaskan, “Kami terus memantau perkembangan di Selat Hormuz dengan sangat serius. Setiap tindakan yang mengancam kebebasan navigasi akan ditanggapi dengan tegas.” Ia juga menambahkan bahwa AS berkomitmen untuk menjaga stabilitas pasokan energi global.

Di sisi lain, Iran melalui Menteri Luar Negerinya, Mohammad Javad Zarif, dalam pernyataan pers di Teheran pada Rabu (19/8/2026), membantah tudingan provokasi. “Tindakan kami semata-mata untuk melindungi kedaulatan dan kepentingan nasional kami. Kami tidak berniat mengganggu pelayaran internasional,” ujar Zarif. Namun, ia juga menekankan bahwa Iran tidak akan ragu mengambil langkah yang diperlukan jika kepentingannya terancam.

Para analis pasar energi memperkirakan bahwa jika eskalasi terus berlanjut, harga minyak mentah Brent bisa menembus level USD 100 per barel, sebuah angka yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa tahun terakhir. “Setiap ketidakpastian di wilayah tersebut secara inheren akan mendorong harga naik. Jika konflik benar-benar pecah, kita akan melihat volatilitas ekstrem di pasar minyak,” ujar Direktur Riset Energi dari Global Energy Watch, Sarah Lee, pada Kamis (20/8/2026).

Situasi ini juga menarik perhatian organisasi internasional. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, dalam sebuah pernyataan pada Jumat (21/8/2026), mendesak kedua belah pihak untuk segera kembali ke meja perundingan. “Kami prihatin dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Penting bagi semua pihak untuk menahan diri dan mencari solusi diplomatik demi perdamaian dan stabilitas regional serta global,” tegas Guterres.

Dampak dari ketegangan ini tidak hanya dirasakan oleh negara-negara produsen dan konsumen minyak, tetapi juga berpotensi memicu inflasi global. Kenaikan harga energi akan berdampak pada biaya produksi berbagai sektor industri, yang pada akhirnya akan diteruskan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga barang dan jasa.

Bagikan: Facebook X WhatsApp