Ancaman Kardiovaskular Mengintai: Studi Ungkap Hanya 4,9 Persen Pasien Berisiko Tinggi di Indonesia Capai Target LDL-C

Rini Widiyarti

JAKARTA – Angka pencapaian target kolesterol jahat atau low-density lipoprotein cholesterol (LDL-C) pada pasien dengan risiko kardiovaskular tinggi dan sangat tinggi di Indonesia masih berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Sebuah studi registry multisenter yang dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Cardiology pada tahun 2025 mengungkap fakta mengejutkan: hanya 4,9 persen pasien yang berhasil menurunkan kadar LDL-C mereka hingga di bawah 55 mg/dL, standar yang direkomendasikan untuk kelompok berisiko tinggi.

Temuan krusial ini menjadi sorotan utama dalam simposium ilmiah bertajuk "Comprehensive Lipid Management in Patients with Type 2 Diabetes" yang diselenggarakan oleh Daewoong Pharmaceutical Indonesia pada 27 Juni 2026 lalu. Acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) 2026 yang berlangsung di Bandung, Jawa Barat. Simposium ini secara khusus membahas urgensi pengelolaan LDL-C bagi pasien diabetes melitus tipe 2, mengingat tingginya risiko mereka mengalami komplikasi penyakit kardiovaskular serius seperti serangan jantung dan stroke.

Para ahli sepakat bahwa pengelolaan lipid, khususnya LDL-C, merupakan komponen vital dalam tata laksana pasien diabetes, tidak kalah pentingnya dari pengendalian kadar gula darah. Data yang dipaparkan dalam simposium menunjukkan bahwa selain hanya 4,9 persen pasien yang mencapai target LDL-C di bawah 55 mg/dL, tercatat pula bahwa hanya 21,2 persen pasien yang berhasil mencapai target yang sedikit lebih tinggi, yaitu kurang dari 70 mg/dL. Angka ini jauh dari ideal dan mengindikasikan adanya kesenjangan besar antara pedoman klinis dan praktik nyata di lapangan dalam penanganan risiko kardiovaskular.

Kaitan antara diabetes tipe 2 dan dislipidemia (kondisi ketidakseimbangan lipid dalam darah) semakin diperkuat oleh data lain yang dipresentasikan. Sebuah studi tahun 2025 yang dipublikasikan dalam Current Internal Medicine Research and Practice Surabaya Journal menemukan bahwa dislipidemia hadir pada 74 persen dari 100 pasien diabetes tipe 2 yang diteliti. Lebih lanjut, pada 40 pasien yang memiliki diabetes tipe 2 disertai penyakit jantung koroner, persentase dislipidemia melonjak signifikan menjadi 85 persen. Fakta ini menegaskan bahwa dislipidemia adalah masalah yang sangat umum dan berbahaya bagi pasien diabetes, meningkatkan risiko mereka terhadap komplikasi kardiovaskular yang fatal.

Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD, FINASIM, FACE, seorang pakar dari Eka Hospital BSD dan SS Diabetic Care, menyoroti kompleksitas penanganan pasien diabetes di Indonesia. "Dalam praktik klinis di Indonesia, pasien diabetes tipe 2 sering kali memiliki berbagai faktor risiko kardiovaskular, sehingga penurunan LDL-C menjadi salah satu prioritas terapi yang penting," ujar Prof. Sidartawan. Ia menjelaskan bahwa banyak pasien tidak hanya menghadapi masalah gula darah tinggi, tetapi juga hipertensi, obesitas, dan dislipidemia secara bersamaan, menjadikan mereka kelompok yang sangat rentan terhadap penyakit jantung dan stroke.

Untuk meningkatkan angka pencapaian target LDL-C pada pasien berisiko tinggi, Prof. Sidartawan menekankan pentingnya menyesuaikan strategi terapi dengan profil risiko masing-masing individu. Pendekatan yang dipersonalisasi ini diharapkan dapat mengatasi berbagai hambatan dalam mencapai target yang optimal. Ia menambahkan, panduan internasional terbaru, seperti ESC/EAS 2025 Focused Update dan ACC/AHA Guideline 2026, secara konsisten mendukung penurunan LDL-C yang lebih intensif. Pedoman ini juga merekomendasikan pemberian terapi penurun lipid berbasis bukti sejak dini, serta upaya pencapaian target LDL-C secara lebih cepat.

"Rekomendasi tersebut memperkuat konsep bahwa semakin rendah kadar LDL-C dicapai sejak dini dan dipertahankan lebih lama, semakin besar pula potensi penurunan risiko kardiovaskular sepanjang hidup pasien," imbuh Prof. Sidartawan. Pesan ini menggarisbawahi urgensi intervensi awal dan berkelanjutan untuk melindungi pasien dari ancaman penyakit jantung dan pembuluh darah. Strategi ini tidak hanya bertujuan untuk mengobati gejala yang muncul, tetapi juga untuk mencegah perkembangan penyakit yang lebih parah di masa depan.

Dari sudut pandang global, Prof. Da Hea Seo dari Division of Endocrinology, Inha University Hospital, Korea Selatan, memberikan perspektif tambahan yang relevan. Ia menegaskan bahwa pengelolaan dislipidemia pada pasien diabetes tipe 2 memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif, termasuk pengendalian LDL-C yang ketat. Menurutnya, untuk pasien yang mengalami kesulitan mencapai target terapi hanya dengan monoterapi (satu jenis obat), terapi kombinasi dapat menjadi solusi efektif yang patut dipertimbangkan.

"Bagi pasien yang sulit mencapai target terapi dengan monoterapi, terapi kombinasi yang secara bersamaan menargetkan sintesis dan absorpsi kolesterol dapat menjadi salah satu pilihan terapi," kata Prof. Da Hea Seo. Pendekatan kombinasi ini memungkinkan penanganan yang lebih efektif terhadap berbagai jalur metabolisme kolesterol dalam tubuh, sehingga meningkatkan peluang pasien untuk mencapai target LDL-C yang direkomendasikan dan pada akhirnya mengurangi risiko kardiovaskular. Pilihan terapi yang inovatif ini membuka harapan baru bagi pasien yang sebelumnya merasa frustrasi dengan kurangnya respons terhadap pengobatan standar.

Situasi rendahnya pencapaian target LDL-C ini merupakan tantangan serius bagi sistem kesehatan di Indonesia. Hal ini menuntut upaya kolaboratif yang lebih kuat dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, praktisi medis, hingga industri farmasi. Edukasi pasien tentang pentingnya kepatuhan terhadap terapi dan gaya hidup sehat juga menjadi kunci. Tanpa penanganan yang agresif dan terencana, risiko terjadinya peningkatan angka penyakit kardiovaskular di kalangan pasien diabetes tipe 2 akan terus membayangi, menimbulkan beban kesehatan dan ekonomi yang signifikan bagi negara. Oleh karena itu, percepatan implementasi pedoman terbaru dan inovasi terapi menjadi sangat krusial demi masa depan kesehatan masyarakat Indonesia yang lebih baik dan untuk menekan angka morbiditas serta mortalitas akibat penyakit kardiovaskular.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All