Wednesday, 22 July 2026
BREAKING
BERITA

Ancaman di Selat Hormuz: Konflik AS-Iran Dorong Harga Minyak Lampaui $90

Oleh Emanuel July 22, 2026 3 hours lalu 0 komentar

Kekhawatiran akan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah mendorong harga minyak mentah global menembus angka psikologis USD 90 per barel. Ketegangan yang memuncak ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi dunia, terutama mengingat peran vital Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilintasi sekitar sepertiga pasokan minyak mentah dunia yang dikirim melalui laut. Setiap potensi gangguan di jalur ini dapat memicu lonjakan harga yang signifikan dan berjangka panjang. Analis pasar energi memprediksi volatilitas akan terus berlanjut selama ketegangan geopolitik ini belum mereda.

Ketegangan antara kedua negara semakin meningkat setelah serangkaian peristiwa yang memicu respons militer. Amerika Serikat telah meningkatkan kehadiran militernya di kawasan tersebut sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai ancaman dari Iran. Di sisi lain, Iran menegaskan haknya untuk merespons setiap agresi.

Menteri Energi Amerika Serikat, Jennifer Granholm, dalam sebuah pernyataan pada Senin (22/1/2024), mengungkapkan keprihatinannya terhadap potensi dampak konflik ini terhadap pasar energi global. “Kami memantau situasi dengan sangat cermat. Kenaikan harga minyak ini adalah konsekuensi langsung dari ketidakpastian geopolitik yang ada,” ujar Granholm. Ia menambahkan bahwa pemerintah AS sedang berkoordinasi dengan negara-negara produsen minyak lainnya untuk memastikan stabilitas pasokan.

Perusahaan-perusahaan minyak besar juga mulai mengambil langkah antisipasi. Chief Executive Officer (CEO) ExxonMobil, Darren Woods, dalam sebuah wawancara terpisah pada Selasa (23/1/2024), menyatakan bahwa perusahaannya telah meningkatkan stok minyak mentah di beberapa fasilitas strategisnya. “Kami harus siap menghadapi berbagai skenario. Keamanan pasokan adalah prioritas utama kami di tengah situasi yang tidak menentu ini,” kata Woods. Ia juga mengindikasikan kemungkinan penyesuaian jadwal pengiriman jika diperlukan.

Dampak kenaikan harga minyak ini diperkirakan akan terasa hingga ke tingkat konsumen. Kenaikan harga bahan bakar di stasiun pengisian bahan bakar kemungkinan akan terjadi dalam beberapa minggu mendatang, yang berpotensi memicu inflasi lebih lanjut di berbagai negara. Bank sentral di berbagai negara pun kini menghadapi dilema baru dalam menentukan kebijakan moneter mereka.

Para analis ekonomi memperingatkan bahwa jika konflik ini berlanjut dan meluas, harga minyak dapat melonjak lebih tinggi lagi, bahkan berpotensi menyentuh angka USD 100 per barel. “Risiko gangguan pasokan di Selat Hormuz adalah faktor utama yang mendorong harga naik. Jika ada insiden di sana, dampaknya akan sangat besar,” jelas Dr. Aisha Khan, seorang ekonom energi dari International Energy Forum.

Bagikan: Facebook X WhatsApp