Ancaman Banjir Bandang Mengintai Sigi Pascagempa, BNPB Minta Mitigasi Darurat

Darus H

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi banjir bandang yang mengancam wilayah terdampak gempa bumi di Sulawesi Tengah, khususnya Kabupaten Sigi. Peringatan ini disampaikan menyusul temuan adanya sejumlah titik longsor yang berpotensi menyumbat aliran sungai, sehingga menimbulkan risiko luapan air saat curah hujan meningkat. Kepala BNPB, Letnan Jenderal Suharyanto, mendesak pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah mitigasi guna mencegah bencana susulan yang lebih parah.

Peringatan tersebut disampaikan Suharyanto saat memimpin rapat koordinasi penanganan darurat gempa di Posko Lapangan Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, pada Jumat, 19 Juni 2026. Menurutnya, hasil pemantauan menggunakan drone di sejumlah perbukitan wilayah terdampak gempa mengidentifikasi adanya 24 titik longsoran. Dari jumlah tersebut, empat titik teridentifikasi mengalami penyumbatan signifikan akibat timbunan material longsor.

"Akibat hujan airnya tertahan, dikhawatirkan apabila curah hujan semakin tinggi akan berpotensi risiko terjadinya banjir bandang," jelas Suharyanto dalam keterangan resminya. Menanggapi temuan ini, telah disepakati langkah darurat untuk segera mengatasi penyumbatan tersebut. "Tadi sudah sepakat akan dijebol dengan menggunakan pompa alkon pada bagian yang tersumbat," tegasnya.

BNPB bersama pemerintah daerah telah berkoordinasi untuk melakukan pemantauan berkala terhadap titik-titik longsor tersebut. Selain itu, pembukaan jalur aliran air menggunakan pompa alkon menjadi prioritas utama guna mencegah terbentuknya bendungan alami yang sewaktu-waktu dapat jebol dan menimbulkan bencana banjir bandang.

Potensi ancaman banjir bandang ini menjadi perhatian tambahan di tengah upaya pemulihan pascagempa yang masih berlangsung di Kabupaten Sigi. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada Selasa, 16 Juni 2026, tidak hanya menyebabkan kerusakan masif pada rumah warga dan fasilitas umum, tetapi juga memicu ratusan titik longsor di sejumlah lereng perbukitan. Bencana alam ini meninggalkan duka mendalam, dengan tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat gempa.

Dalam rapat koordinasi yang dipimpinnya, Suharyanto mengapresiasi kecepatan penanganan darurat yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah. Pada hari keempat pascagempa, tenda-tenda pengungsian telah berhasil dibangun di dekat permukiman warga. Pembangunan tenda ini merupakan langkah antisipasi penting untuk melindungi warga dari potensi gempa susulan yang masih terus terjadi.

"Dari hasil rapat koordinasi tadi, alhamdulillah sangat cepat penanganannya. Sudah terbangun tenda-tenda yang dibangun dekat dengan rumah warga sebagai antisipasi apabila ada gempa susulan," ujar Suharyanto. Ia juga menyempatkan diri meninjau langsung sejumlah lokasi yang terdampak gempa, termasuk di Desa Sejahtera, Kecamatan Palolo, dan Desa Kamarora, Kecamatan Nokilalaki. Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan kebutuhan dasar para pengungsi, seperti tempat ibadah sementara, dapat segera terpenuhi oleh pemerintah.

Kabupaten Sigi tercatat sebagai daerah yang mengalami dampak paling signifikan dari gempa tersebut. Hingga Kamis, 18 Juni 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi 703 gempa susulan. Sebanyak 25 di antaranya masih dirasakan oleh masyarakat, sehingga mendorong sebagian warga untuk tetap memilih bertahan di tenda-tenda pengungsian demi keselamatan.

Menyikapi situasi darurat ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari, terhitung mulai tanggal 17 hingga 23 Juni 2026. Penetapan status ini diharapkan dapat mempercepat mobilisasi bantuan logistik dan memperlancar proses penanganan dampak bencana di lapangan.

BNPB sendiri telah bergerak cepat menyalurkan berbagai bantuan logistik vital bagi para pengungsi. Bantuan tersebut meliputi tenda pengungsi, tenda keluarga, kebutuhan pokok seperti sembako, matras, selimut, hingga kasur lipat. Selain itu, tenda untuk tempat ibadah sementara juga telah disediakan untuk memenuhi kebutuhan spiritual warga terdampak.

Hingga kini, tim petugas BNPB masih terus berada di lokasi bencana di Sigi. Mereka tidak hanya mendampingi pelaksanaan penanganan darurat, tetapi juga secara aktif memantau perkembangan potensi ancaman lanjutan. Kewaspadaan terhadap risiko banjir bandang akibat longsoran menjadi salah satu fokus utama pemantauan guna memastikan keselamatan warga dan mencegah terjadinya bencana tambahan yang tidak diinginkan. Upaya mitigasi terus digalakkan sembari proses pemulihan dan rekonstruksi pascagempa berjalan paralel.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All