Thursday, 30 July 2026
BREAKING
DUNIA

Analisis Pakar: Kesalahan Fatal Trump dalam Konflik dengan Iran yang Berlarut-larut

Oleh Heni Maulidya July 30, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Setelah enam bulan pertempuran sengit, Amerika Serikat masih belum mampu meraih kemenangan definitif atas Iran, meskipun telah menggelontorkan dana fantastis senilai Rp672 triliun. Sebuah analisis mendalam oleh para pakar mengungkap adanya kesalahan mendasar yang dilakukan oleh pemerintahan Donald Trump, yang dinilai menjadi akar permasalahan dalam konflik berkepanjangan ini.

Kesalahan paling krusial, menurut para ahli, terletak pada strategi yang tidak terintegrasi dan kurangnya pemahaman mendalam mengenai lanskap geopolitik Iran. Alih-alih membangun koalisi yang solid dan mengandalkan diplomasi yang kuat, Trump justru cenderung mengambil pendekatan unilateral dan reaktif. Hal ini, di satu sisi, melemahkan upaya AS untuk mendapatkan dukungan internasional yang signifikan, dan di sisi lain, justru memperkuat solidaritas di antara faksi-faksi di Iran yang bersatu melawan ancaman eksternal.

Salah satu poin penting yang disoroti adalah kegagalan dalam mengantisipasi respons Iran. Pemerintahan Trump kerap meremehkan kemampuan Iran untuk beradaptasi dan melawan, baik melalui cara konvensional maupun asimetris. Kepercayaan diri yang berlebihan ini berujung pada keputusan-keputusan yang tidak mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang, seperti penarikan diri dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) atau kesepakatan nuklir Iran pada Mei 2018. Keputusan ini, yang oleh Trump disebut sebagai “kesepakatan terburuk yang pernah ada”, justru memicu Iran untuk kembali meningkatkan program nuklirnya, sebuah langkah yang sebelumnya berhasil dibatasi oleh JCPOA.

Lebih lanjut, para pakar menyoroti bagaimana retorika keras dan ancaman militer yang kerap dilontarkan oleh Trump tidak diimbangi dengan strategi politik yang jelas. Meskipun Trump mengklaim “tekanan maksimum” terhadap Iran, tujuan akhir dari tekanan tersebut seringkali tidak terartikulasi dengan baik. Hal ini menciptakan ketidakpastian dan kebingungan, baik bagi sekutu AS maupun bagi Iran sendiri, yang pada akhirnya mempersulit upaya de-eskalasi dan pencapaian solusi damai. “Kesalahan mendasar Trump adalah ia percaya bahwa ancaman militer saja sudah cukup untuk mengubah perilaku Iran, tanpa menyadari kompleksitas politik internal Iran dan dampaknya terhadap stabilitas regional,” ujar seorang analis keamanan senior yang enggan disebutkan namanya.

Selain itu, kegagalan dalam membangun aliansi yang kuat dan berkelanjutan juga menjadi faktor penentu. Trump lebih memilih untuk menekan negara-negara Teluk untuk mengambil langkah tegas, namun seringkali tanpa memberikan dukungan yang memadai atau visi bersama yang jelas. Hal ini menyebabkan inisiatif-inisiatif yang terfragmentasi dan kurang efektif dalam menghadapi Iran. Akibatnya, meskipun telah enam bulan berlalu dan triliunan rupiah telah dihabiskan, AS masih terjebak dalam lingkaran konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Bagikan: Facebook X WhatsApp