Sebuah analisis mendalam dari para ilmuwan menyimpulkan bahwa banjir dahsyat yang melanda Nepal baru-baru ini kemungkinan besar dipicu oleh peristiwa runtuhnya sebagian gletser beserta lereng gunung di bawahnya. Fenomena alam ini, yang menyebabkan kerugian besar, diyakini merupakan akumulasi dari proses yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Menurut para peneliti, peristiwa pemicu utama adalah longsoran material gunung yang signifikan. Longsoran ini kemudian memicu serangkaian kejadian berantai yang berujung pada banjir bandang yang menghancurkan.
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis, tim ilmuwan menjelaskan bahwa proses tersebut melibatkan runtuhnya massa es dan batuan dari ketinggian. “Kami meyakini bencana itu bermula ketika sebagian gletser beserta lereng gunung di bawahnya runtuh,” ungkap salah satu ilmuwan yang terlibat dalam penelitian ini.
Fenomena longsoran ini bukan terjadi secara instan, melainkan merupakan hasil dari degradasi yang telah berlangsung lama pada struktur geologi gunung tersebut. Faktor-faktor seperti perubahan iklim, pencairan gletser yang semakin cepat, dan aktivitas seismik kemungkinan turut berkontribusi pada ketidakstabilan lereng.
Ketika sebagian besar gletser dan tanah di bawahnya runtuh, terjadi pelepasan energi yang sangat besar. Material yang jatuh tersebut kemudian memicu gelombang air yang masif, baik dari lelehan gletser maupun sumber air lainnya di lereng gunung, yang kemudian mengalir deras ke lembah dan permukiman di bawahnya.
Para ahli geologi dan klimatologi terus melakukan kajian lebih lanjut untuk memahami secara komprehensif mekanisme yang terjadi. Identifikasi titik-titik rawan longsor di kawasan pegunungan Himalaya menjadi prioritas utama untuk mitigasi bencana di masa depan. Pemahaman mendalam mengenai interaksi antara gletser, perubahan iklim, dan geologi gunung sangat krusial dalam upaya pencegahan dan penanggulangan bencana serupa di wilayah yang rentan.
