Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menunda serangan balasan terhadap Iran pada Juni 2019 dinilai oleh para analis sebagai langkah strategis yang didorong oleh kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah. Keputusan ini diambil beberapa jam setelah Iran menembak jatuh drone mata-mata Amerika Serikat, Global Hawk, di atas Selat Hormuz.
Menurut para pakar, Trump menyadari potensi dampak domino dari sebuah serangan militer langsung ke Iran. Alih-alih membatasi pada respons terbatas, serangan semacam itu berisiko memicu balasan yang lebih besar dari Iran, yang pada gilirannya dapat menarik negara-negara lain di kawasan tersebut ke dalam pusaran konflik bersenjata. “Ini adalah keputusan yang sangat sulit. Sangat mudah untuk melakukan serangan. Tapi sulit untuk menghentikannya,” ujar seorang pejabat senior AS yang tidak disebutkan namanya, mengutip perkataan Trump pada rapat di Gedung Putih.
Kekhawatiran akan eskalasi ini menjadi pertimbangan utama Trump. Ia dilaporkan khawatir bahwa sebuah serangan militer dapat berujung pada perang habis-habisan yang tidak hanya melibatkan AS dan Iran, tetapi juga sekutu-sekutu mereka di kawasan. Kemungkinan adanya korban jiwa dari pihak AS dan sekutunya, serta ketidakpastian mengenai tujuan akhir dari sebuah konflik berskala besar, menjadi faktor penentu dalam pengambilan keputusan tersebut.
Para analis juga menyoroti bahwa Trump tampaknya mempertimbangkan berbagai opsi dan tidak ingin terburu-buru dalam mengambil tindakan yang dapat memiliki konsekuensi jangka panjang yang tak terduga. Laporan-laporan menyebutkan bahwa Trump sempat menyetujui serangan balasan, namun kemudian menariknya kembali setelah berdiskusi dengan para penasihat keamanannya. Diskusi ini dilaporkan berlangsung selama beberapa jam pada Kamis malam, 20 Juni 2019.
Presiden Trump sendiri mengonfirmasi penundaan tersebut melalui cuitan di akun Twitter-nya pada Sabtu, 22 Juni 2019. Ia menyatakan bahwa penyerangan tersebut dinilai tidak proporsional dengan jatuhnya drone. “Saya bertanya, berapa banyak orang yang akan mati?” tulis Trump, mengindikasikan bahwa pertimbangan kemanusiaan dan potensi kerugian menjadi faktor penting dalam keputusannya. Ia juga menambahkan bahwa AS ‘siap dan siap’ untuk bertindak jika diperlukan, namun menunggu keputusan mengenai cara terbaik untuk bertindak terhadap Iran.
