Friday, 10 July 2026
BREAKING
EKONOMI

Allo Bank Patahkan Tren Kenaikan Suku Bunga Kredit di Tengah Gempuran BI Rate, Apa Rahasianya?

Oleh Yohanes June 25, 2026 2 weeks lalu 0 komentar

PT Allo Bank Indonesia Tbk (Allo Bank) membuat keputusan strategis di tengah iklim kebijakan moneter yang ketat. Meskipun Bank Indonesia (BI) baru saja menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate, serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) turut mengerek tingkat bunga penjaminan simpanan, bank digital ini menyatakan tidak akan serta-merta menaikkan bunga kredit kepada nasabah. Langkah ini menunjukkan strategi berbeda yang ditempuh Allo Bank dalam mengelola portofolio pinjamannya, berfokus pada efisiensi biaya dana dan mitigasi risiko.

Komisaris Utama Independen Allo Bank, Aviliani, menjelaskan bahwa penentuan bunga kredit tidak semata-mata bergantung pada pergerakan suku bunga acuan yang ditetapkan oleh BI. "Dengan BI Rate, tidak otomatis kita menaikkan (bunga kredit), tetapi tetap melihat cost yang kita keluarkan," ujar Aviliani usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Allo Bank di Jakarta pada Kamis, 25 Juni. Ia menegaskan bahwa biaya dana (cost of fund) yang dikeluarkan Allo Bank terbilang sangat efektif dan cukup rendah, menjadi kunci fleksibilitas perusahaan dalam menjaga bunga kreditnya agar tetap kompetitif.

Keputusan Allo Bank ini datang setelah Bank Indonesia kembali melakukan pengetatan kebijakan moneternya. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026, BI memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen. Kenaikan ini menandai kali ketiga dalam kurun waktu sekitar satu bulan terakhir, mengindikasikan upaya BI dalam meredam inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Kebijakan ini secara umum berdampak pada peningkatan biaya pinjaman di sektor perbankan.

Tak hanya BI, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga turut menyesuaikan kebijakannya untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan. Pada Kamis, 25 Juni, LPS mengumumkan kenaikan tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah di bank umum menjadi 3,75 persen. Penyesuaian ini berlaku untuk periode 1 Juli hingga 30 September 2026, yang bertujuan untuk menjaga daya saing simpanan perbankan dan memberikan perlindungan lebih baik kepada para nasabah penyimpan dana. Kenaikan tingkat bunga penjaminan ini secara umum berpotensi meningkatkan biaya dana bagi perbankan yang menghimpun dana pihak ketiga.

Namun, Aviliani menekankan bahwa setiap bank memiliki pendekatan strategis yang unik dalam menentukan tingkat bunga simpanan mereka. Penyesuaian bunga tersebut harus mempertimbangkan keseimbangan yang cermat antara kebutuhan penyaluran kredit dan upaya penghimpunan dana pihak ketiga (DPK). "Sebenarnya kalau kita melihat penyesuaian antara berapa kredit yang kita berikan dengan dana. Jadi memang beda-beda setiap bank. Yang penting tetap sesuai dengan batasan LPS," jelasnya, menyoroti pentingnya strategi yang disesuaikan dengan profil masing-masing bank.

Sebagai entitas bank digital, Allo Bank memiliki karakteristik operasional yang berbeda dibandingkan bank konvensional. Model bisnis yang ramping dan berfokus pada digitalisasi, tanpa beban biaya operasional cabang fisik yang besar, memungkinkan Allo Bank untuk mengelola dana masyarakat dengan lebih efisien. Efisiensi ini pada akhirnya berkontribusi pada rendahnya biaya dana, memberikan Allo Bank ruang untuk tidak langsung menaikkan bunga kredit meskipun ada tekanan dari kenaikan suku bunga acuan. Ruang penyesuaian suku bunga simpanan pun disesuaikan secara cermat dengan kebutuhan likuiditas masing-masing bank, bukan hanya mengikuti tren pasar secara membabi buta.

Fokus bisnis Allo Bank untuk tahun 2026 akan diarahkan pada perluasan kerja sama dengan mitra bisnis. Strategi ini dirancang secara khusus untuk mendorong pertumbuhan pembiayaan, terutama melalui produk paylater. Aviliani menjelaskan bahwa pendekatan ini dipilih karena dinilai efektif dalam menekan risiko kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) dibandingkan dengan penyaluran pinjaman langsung kepada individu tanpa keterlibatan ekosistem.

"Kalau kita hanya melakukan pinjaman kepada perorangan tanpa ada mitra bisnis, itu akan sulit. Biasanya tingkat NPL-nya juga cukup besar," katanya. Dengan menjalin kemitraan yang kuat, Allo Bank dapat memanfaatkan data dan ekosistem mitra bisnis untuk menganalisis pola transaksi serta perilaku belanja calon nasabah. Hal ini memungkinkan bank untuk mendapatkan profil risiko yang lebih terukur dan akurat sebelum memberikan fasilitas pembiayaan, sehingga ekspansi kredit dapat dilakukan dengan lebih hati-hati dan terarah.

"Kita tetap ekspansi, tetapi tetap berhati-hati dalam pemberian kredit. Dengan mitra bisnis, kita bisa melihat tren belanja nasabah sehingga profil risikonya lebih terukur," tambah Aviliani, menggambarkan komitmen Allo Bank dalam menjaga kualitas asetnya di tengah agresivitas pertumbuhan pasar. Pendekatan ini merupakan kunci untuk menjaga keberlanjutan bisnis bank di tengah persaingan ketat sektor keuangan.

Strategi yang diterapkan Allo Bank ini telah menunjukkan hasil positif dalam kinerja keuangannya. Sebelumnya, bank digital tersebut berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp574,26 miliar sepanjang tahun buku 2025, angka yang menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja keuangan yang solid ini juga tercermin dalam keputusan RUPST 2026 yang menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp286,97 miliar, atau setara dengan 50 persen dari laba bersih tahun buku 2025, menunjukkan komitmen terhadap pemegang saham.

Dengan menjaga bunga kredit tetap stabil dan fokus pada strategi pembiayaan berbasis kemitraan melalui produk paylater, Allo Bank berupaya menawarkan nilai lebih kepada nasabahnya sekaligus mengelola risiko secara prudent. Di tengah gejolak ekonomi dan pengetatan kebijakan moneter yang terus berlangsung, pendekatan adaptif ini menjadi kunci bagi bank digital untuk tetap kompetitif dan bertumbuh berkelanjutan di pasar perbankan nasional yang semakin dinamis dan penuh tantangan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait