Tiga belas hari pasca letusan dahsyat Gunung Anak Krakatau, dampaknya masih terasa di sektor transportasi udara. Abu vulkanik yang disemburkan terus-menerus memaksa penutupan delapan bandara, menyebabkan gangguan signifikan bagi sekitar 170.000 penumpang.
Penutupan bandara ini secara langsung berdampak pada 1.558 jadwal penerbangan. Keputusan ini diambil demi menjaga keselamatan penerbangan, mengingat abu vulkanik dapat merusak mesin pesawat dan mengganggu visibilitas pilot.
Kepala Bagian Humas PT Angkasa Pura I, Yado Yarismano, menyatakan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. “Kami terus berkoordinasi dengan BMKG dan PVMBG. Keputusan penutupan bandara ini berdasarkan rekomendasi dari otoritas penerbangan,” ujar Yado.
Delapan bandara yang terdampak penutupan adalah Bandara Radin Inten II (Lampung), Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang), Bandara Depati Amir (Pangkal Pinang), Bandara Husein Sastranegara (Bandung), Bandara Soekarno-Hatta (Cengkareng), Bandara Halim Perdanakusuma (Jakarta), Bandara Kertajati (Majalengka), dan Bandara Supadio (Pontianak).
Meskipun bandara-bandara tersebut ditutup, PT Angkasa Pura I memastikan bahwa operasional di bandara yang masih buka tetap berjalan normal. “Kami mengimbau penumpang untuk terus memantau informasi terbaru dari maskapai penerbangan terkait status penerbangan mereka,” tambah Yado.
Sejak letusan pada Sabtu (22/12/2018), aktivitas Gunung Anak Krakatau terus meningkat. PVMBG mencatat adanya peningkatan tremor dan keluarnya asap kelabu tebal dari kawah gunung. Hal ini menjadi perhatian serius otoritas penerbangan dan keselamatan masyarakat.
