Yerusalem Timur, Palestina – Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, kembali melakukan kunjungan kontroversial ke kompleks Masjid Al Aqsa pada Senin, 31 Agustus. Insiden ini kembali memicu ketegangan di wilayah yang tengah diduduki tersebut, seiring dengan seruan Ben-Gvir untuk mendirikan sinagoge di area suci umat Muslim itu.
Kunjungan Ben-Gvir ke kompleks yang juga dikenal oleh umat Yahudi sebagai Temple Mount ini bukanlah yang pertama kali. Namun, kali ini, kunjungannya disertai dengan pernyataan tegas yang menyerukan pembangunan tempat ibadah Yahudi di sana. Pernyataan ini tentu saja menuai kecaman keras dari berbagai pihak, termasuk Palestina dan komunitas internasional, yang melihatnya sebagai provokasi terhadap status quo situs bersejarah tersebut.
Menurut laporan, Ben-Gvir menyatakan, “Ini adalah tempat tersuci bagi rakyat Israel, dan kami harus membangun sinagoge di sini.” Seruan ini mengabaikan sensitivitas dan signifikansi kompleks Al Aqsa sebagai salah satu situs paling suci dalam Islam, yang juga memiliki kaitan historis bagi umat Yahudi. Pengelolaan kompleks ini sendiri berada di bawah otoritas Wakaf Islam Yerusalem, yang berupaya menjaga ketenangan dan akses bagi semua umat beragama.
Pihak Palestina mengecam keras tindakan Ben-Gvir, menyebutnya sebagai upaya untuk mengubah lanskap dan karakter situs tersebut. “Ini adalah pelanggaran terhadap kesucian Al Aqsa dan provokasi yang tidak dapat diterima,” ujar seorang pejabat Palestina yang enggan disebutkan namanya. Mereka berpendapat bahwa pembangunan sinagoge di kompleks Al Aqsa akan semakin memperburuk situasi dan berpotensi memicu kekerasan lebih lanjut di wilayah yang sudah bergejolak.
Seruan Ben-Gvir ini juga mendapat sorotan dari komunitas internasional. Sejumlah negara telah menyerukan agar semua pihak menahan diri dan menghormati status quo di Yerusalem. Mereka mengingatkan bahwa tindakan provokatif dapat berdampak negatif pada upaya perdamaian di Timur Tengah. Sejarah mencatat bahwa kompleks Al Aqsa telah menjadi titik nyala konflik berulang kali, dan setiap perubahan statusnya selalu menimbulkan reaksi keras.
