Di tengah hiruk pikuk metropolitan Jakarta, sebuah oase alam hadir di Mal Ciputra, Grogol, Jakarta Barat. Atrium pusat perbelanjaan ini disulap menjadi "Explore The Jungle," sebuah wahana tematik yang menawarkan pengalaman edukasi dan rekreasi unik bagi keluarga, khususnya dalam menyambut musim liburan sekolah. Dengan suara tonggeret, jangkrik, dan kicau burung yang mengalun dari pengeras suara, berpadu dengan gemericik air terjun buatan dan rimbunnya instalasi tanaman, pengunjung diajak menyelami suasana hutan tropis yang menenangkan.
Wahana ini dirancang dengan jalur setapak melingkar yang memungkinkan pengunjung menelusuri setiap sudut "hutan" mini. Aneka jenis tanaman berjejer rapi, mengelilingi sebuah telaga buatan lengkap dengan ikan-ikan yang berenang bebas, menciptakan spot-spot menarik untuk berswafoto. Pengunjung dari berbagai usia terlihat antusias mengabadikan momen di tengah instalasi yang tak biasa ini, seolah melarikan diri sejenak dari belantara beton Jakarta.
Antusiasme masyarakat urban terhadap destinasi edukatif dan rekreatif ini sangat tinggi. Sejak dibuka, wahana "Explore The Jungle" berhasil menarik perhatian tidak hanya pengunjung yang kebetulan berbelanja, tetapi juga keluarga-keluarga yang sengaja datang untuk piknik. Banyak dari mereka, seperti Mayawati (39), warga Kebayoran Lama, terinspirasi oleh fenomena yang viral di media sosial, terutama TikTok. "Bagus sih, biarpun ini buatan, anak-anak bisa merasakan alam. Nggak setiap hari kita ngerasain suasana pedesaan kaya gini," ujarnya sambil menggendong anaknya, Kamis (25/6/2026) sore. Mayawati, yang datang bersama saudara dan keponakannya, mengaku pengalaman langsung di lokasi jauh lebih menarik daripada yang ia lihat di media sosial dan berharap bisa kembali lagi.
Pengelola Mal Ciputra berupaya menciptakan suasana serealistis mungkin agar pengunjung dapat merasakan nuansa alam yang autentik. Setiap tanaman dilengkapi dengan keterangan nama, jenis, dan sifatnya, menjadikannya sarana edukasi interaktif yang berharga, terutama bagi anak-anak. Konsep petualangan ini bertujuan mengajak si kecil mengenal ekosistem alam lebih dekat melalui pengalaman yang menghibur dan mendidik. Beragam instalasi dan aktivitas dirancang untuk memberikan pembelajaran nyata tentang lingkungan.
Selain wahana belantara utama, daya tarik lain yang tak kalah memikat adalah spot edukasi berupa rumah kaca yang terbagi menjadi dua area: "Butterfly Garden" dan "House of Bugs." Di sinilah pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan aneka serangga dan kupu-kupu hidup. Nadhif (15), seorang entomolog muda yang baru akan beranjak ke bangku SMA, turut membawa koleksi pribadinya untuk dipamerkan. "Kalau kupu-kupu di butterfly garden ini ada sekitar 10 jenis, sedangkan di dalam kandang House of Bugs ini ada sekitar 30 spesies serangga dan juga artropoda, seperti kepiting isopod dan lain-lain," jelasnya. Secara keseluruhan, ia menyebutkan ada sekitar 35 spesies kupu-kupu di seluruh area taman kupu-kupu.
Salah satu koleksi paling langka yang dipamerkan adalah kupu-kupu Idea blanchardii, spesies endemik yang habitat aslinya berasal dari Pulau Peleng, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Selain kupu-kupu yang dibiarkan terbang bebas, deretan kepompong yang dikembangbiakkan juga dapat diamati di keranjang kain, memungkinkan anak-anak memahami tahapan proses metamorfosis kupu-kupu secara langsung. Kupu-kupu dari penangkaran komunitas ini dapat hidup antara satu hingga empat minggu, tergantung pada ukuran, spesies, dan ketersediaan makanan.
Nadhif, didampingi rekannya dari Komunitas Koloni Semut Indonesia, menjelaskan bahwa sebagian serangga tidak dapat bertahan hidup tanpa tanaman asli habitatnya. Oleh karena itu, ia menyiapkan tanaman pendukung, seperti pohon nangka untuk belalang daun besar (Pseudophyllus katydid) di area terbuka dalam rumah kaca. Serangga hidup dan kumbang-kumbang lainnya disimpan dalam akuarium kecil agar pengunjung dapat mengamati gerak-gerik mereka dengan lebih detail. Di spot interaktif ini, pengunjung bahkan dapat memegang sebagian serangga sambil menyimak penjelasan mengenai karakternya dari Nadhif dan timnya. Serangga yang telah mati akan diawetkan dan dipajang sebagai bahan pembelajaran. Untuk menikmati fasilitas edukasi serangga ini, pengunjung dikenakan biaya sebesar Rp 50.000.
Pengalaman interaktif ini mendapat sambutan positif dari para orang tua. Silvi (40), pengunjung dari Ancol, mengajak anaknya, Hugo (7), yang sangat menikmati spot serangga. "Bagus sih, edukatif ya. Jadi untuk mengisi liburan anak-anak. Kita bisa dapat unsur alamnya, tapi di dalam mal sekalian belanja. Bisa melihat-lihat serangga, nambah pengetahuan dia bagaimana insek itu bertelur, lalu menjadi binatang aslinya. Hugo berani untuk nyoba pegang karena memang menyenangi serangga," tutur Silvi.
Ferry Irinato, General Manager Mal Ciputra, menegaskan bahwa konsep suasana alam ini diharapkan menjadi pengalaman terbaik bagi anak-anak. Pembelajaran melalui interaksi langsung dengan alam dipercaya dapat menumbuhkan pengetahuan dan kepedulian mereka terhadap lingkungan sekitar. Ia menambahkan, wahana ini juga bertujuan menginspirasi anak-anak untuk mengenal, mencintai, dan menghargai alam sejak dini. Konsep inovatif ini terbukti berhasil mendongkrak animo masyarakat, dengan peningkatan angka pengunjung sekitar 10 persen dibandingkan hari-hari biasa.
Kehadiran "Explore The Jungle" di Mal Ciputra hingga 12 Juli 2026 ini menunjukkan bagaimana pusat perbelanjaan dapat berinovasi untuk menawarkan lebih dari sekadar pengalaman berbelanja. Dengan menggabungkan unsur rekreasi, edukasi, dan daya tarik visual, mal berhasil menciptakan destinasi liburan yang relevan dan bermanfaat di tengah padatnya kota. Inisiatif ini tidak hanya mengisi waktu luang anak-anak di musim liburan, tetapi juga menanamkan kesadaran lingkungan yang penting sejak usia dini, sekaligus menjadi magnet baru bagi perekonomian lokal.











