Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan terhadap dua pangkalan militer Amerika Serikat yang berlokasi di Yordania pada Senin (31/8). Klaim ini muncul sebagai respons atas serangan drone yang menewaskan dua komandan Hizbullah di Iran pada Kamis (29/8).
Juru Bicara IRGC, Ramezan Sharif, menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan balasan atas aksi teror yang dilakukan Amerika Serikat terhadap para pemimpin Hizbullah. Ia juga mengonfirmasi bahwa rudal-rudal yang diluncurkan berhasil menghantam target di pangkalan militer AS di Yordania.
Namun, klaim IRGC dibantah keras oleh pihak Amerika Serikat. Juru Bicara Pentagon, John Kirby, menegaskan bahwa tidak ada serangan yang terjadi terhadap pangkalan militer AS di Yordania. “Kami tidak memiliki informasi mengenai serangan semacam itu,” ujar Kirby.
Sementara itu, serangan yang diklaim IRGC terjadi pada hari yang sama dengan peringatan 10 tahun kematian Mayor Jenderal Qassem Soleimani, mantan komandan Pasukan Quds IRGC, yang tewas dalam serangan drone AS di Baghdad pada Januari 2020. Peringatan ini biasanya diisi dengan pidato dari para petinggi militer Iran.
Dalam pidato pada peringatan tersebut, Panglima Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Mohammad Bagheri, juga menyampaikan ancaman kepada Israel. Ia menyatakan bahwa setiap tindakan agresif terhadap Iran akan dibalas dengan keras. Bagheri menekankan bahwa respons tersebut akan lebih berat daripada serangan yang terjadi sebelumnya.
Klaim serangan IRGC ini menambah ketegangan yang sudah ada di kawasan Timur Tengah, terutama setelah insiden tewasnya dua komandan Hizbullah di Iran. Insiden tersebut diduga kuat dilakukan oleh Israel, meskipun Tel Aviv belum memberikan komentar resmi.
