Mahasiswa Malang Dibekali Literasi Keuangan Digital untuk Menghadapi Tantangan Finansial

Rini Widiyarti

JAKARTA – Kredit Pintar menggandeng Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menggelar program edukasi bertajuk "Pindar Mengajar: Cerdas Mengelola, Bijak Bertransaksi" di Universitas Islam Malang. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan literasi keuangan mahasiswa terhadap perkembangan pesat layanan keuangan digital yang semakin mudah diakses.

Acara edukasi ini dilatarbelakangi oleh kesenjangan antara tingginya adopsi masyarakat terhadap layanan finansial digital, termasuk pinjaman daring, dengan pemahaman yang masih terbatas mengenai manfaat, risiko, dan konsekuensi penggunaannya. Dalam era digital ini, kemampuan mengelola keuangan menjadi krusial, terutama bagi para mahasiswa yang kerap dihadapkan pada berbagai tantangan finansial.

Puji Sukaryadi, Head of Brand & Communications Kredit Pintar, menekankan pentingnya literasi keuangan sejak dini. "Di tengah berbagai tantangan finansial yang dihadapi mahasiswa, pengelolaan keuangan yang baik bukan hanya soal besar atau kecilnya uang saku, melainkan bagaimana mengalokasikannya secara tepat. Melalui kegiatan ini, kami mengajak mahasiswa untuk memahami pentingnya pengelolaan keuangan sejak dini sebagai fondasi menuju masa depan yang lebih sejahtera," ujarnya dalam keterangan tertulis pada Kamis, 25 Juni 2026.

Program "Pindar Mengajar" ini secara spesifik menyasar kalangan mahasiswa sebagai generasi muda yang akan menjadi tulang punggung ekonomi di masa depan. Dengan pemahaman yang kuat mengenai pengelolaan keuangan, diharapkan mereka dapat mengambil keputusan finansial yang lebih bijak dan terhindar dari jerat utang konsumtif maupun praktik pinjaman ilegal.

Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) menunjukkan bahwa tingkat inklusi keuangan masyarakat Indonesia telah melampaui angka 80 persen. Angka ini mengindikasikan bahwa sebagian besar masyarakat sudah memiliki akses dan menggunakan berbagai layanan keuangan. Namun, tingkat literasi keuangan masih berkisar antara 60-70 persen, yang berarti mayoritas masyarakat belum sepenuhnya memahami berbagai aspek risiko yang melekat pada layanan keuangan yang mereka gunakan.

Kesenjangan antara inklusi dan literasi keuangan ini menjadi perhatian serius dari regulator. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mencatat pertumbuhan signifikan pada layanan pinjaman daring. Jumlah rekening penerima pinjaman dari platform pinjaman online telah mencapai puluhan juta akun. Meskipun demikian, Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) masih menemukan ribuan entitas pinjaman online ilegal beroperasi dalam beberapa tahun terakhir, yang semakin mempertegas urgensi edukasi literasi keuangan.

Edukasi yang diberikan dalam program "Pindar Mengajar" meliputi pemahaman mendalam mengenai berbagai produk keuangan digital, cara bertransaksi yang aman, identifikasi risiko pinjaman daring, serta pentingnya membangun kebiasaan menabung dan berinvestasi sejak dini. Peserta diajak untuk memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, serta bagaimana membuat anggaran pribadi yang efektif untuk mencapai tujuan finansial jangka pendek maupun jangka panjang.

Selain itu, materi juga mencakup cara mengenali ciri-ciri pinjaman online ilegal yang seringkali menjebak korban dengan bunga selangit, ancaman penyebaran data pribadi, dan praktik penagihan yang tidak etis. AFPI, sebagai asosiasi yang mewadahi perusahaan fintech lending, berperan penting dalam memberikan edukasi berdasarkan standar industri dan praktik terbaik yang berlaku.

Kolaborasi antara Kredit Pintar dan AFPI dalam program ini mencerminkan komitmen sektor fintech untuk tidak hanya menyediakan akses pendanaan, tetapi juga turut berkontribusi dalam meningkatkan kualitas literasi keuangan masyarakat. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dan regulator untuk menciptakan ekosistem keuangan digital yang sehat, aman, dan berkelanjutan.

Kredit Pintar sendiri merupakan salah satu platform fintech lending yang telah beroperasi dan menyalurkan pendanaan kepada masyarakat. Melalui program seperti "Pindar Mengajar", perusahaan ini berupaya membangun kesadaran finansial yang lebih baik di kalangan penggunanya, terutama generasi muda yang merupakan segmen penting dalam ekosistem digital.

Penyaluran Kredit Pintar sendiri dilaporkan telah menembus angka Rp 1.388 triliun, di mana sekitar 40 persen di antaranya mengalir ke sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Angka ini menunjukkan peran penting platform fintech lending dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, termasuk pemberdayaan pelaku UMKM. Dengan demikian, edukasi literasi keuangan bagi mahasiswa juga diharapkan dapat membentuk calon pelaku usaha yang lebih cakap dalam mengelola keuangan bisnisnya kelak.

Melalui pendekatan yang interaktif dan relevan dengan keseharian mahasiswa, program "Pindar Mengajar" diharapkan dapat menanamkan kebiasaan mengelola keuangan yang positif. Pengelolaan keuangan yang cerdas dan transaksi yang bijak menjadi kunci bagi mahasiswa untuk dapat menjalani kehidupan perkuliahan dengan lebih tenang, terhindar dari masalah finansial, dan siap menghadapi masa depan yang lebih cerah dan sejahtera. Kegiatan serupa diharapkan dapat terus digalakkan di berbagai institusi pendidikan lainnya untuk menjangkau lebih banyak mahasiswa di seluruh Indonesia.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All