Peringatan Keras Israel kepada AS: ‘Anda Tak Paham Berhadapan dengan Siapa’ di Isu Iran

Heni Maulidya

Tel Aviv, Israel – Hubungan strategis antara Israel dan Amerika Serikat (AS) kini berada di ambang ketegangan serius menyusul peringatan keras dari Tel Aviv. Israel secara terbuka menyatakan bahwa kedua negara sekutu ini berpotensi "saling bertabrakan" terkait kesepakatan yang baru saja dicapai antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri apa yang disebut sebagai ‘perang’ terbaru. Kekhawatiran Israel berpusat pada program nuklir Iran yang dianggap mengancam keamanan regional.

Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel, Miki Zohar, menjadi salah satu suara paling vokal dalam menyampaikan kritik pedas terhadap pendekatan AS. Berbicara dalam Konferensi Pemerintahan Daerah di Tel Aviv, Zohar menegaskan bahwa perjanjian AS-Iran tidak akan efektif dalam mengatasi kekhawatiran serius Washington maupun Tel Aviv terkait ambisi nuklir Teheran. Ia menganggap langkah yang diambil AS saat ini mengenai isu Iran sebagai "tidak baik" dan penuh kekeliruan.

"Mereka tidak memahami dengan siapa mereka sedang berhadapan," tegas Zohar, sebagaimana dikutip oleh situs berita Israel, Ynet. Pernyataan tersebut secara implisit menyoroti perbedaan mendasar dalam persepsi dan strategi antara Washington dan Tel Aviv dalam menghadapi rezim Iran. Zohar bahkan melangkah lebih jauh, memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan berada di jalur tabrakan dengan Israel dalam waktu dekat.

Implikasi dari potensi tabrakan ini, menurut Zohar, sangat serius. Ia menekankan bahwa respons Israel terhadap AS tidak akan "otomatis" atau mengikuti begitu saja, mengindikasikan bahwa Tel Aviv siap untuk mengambil jalur independen demi melindungi kepentingannya. Perbedaan pandangan yang semakin mendalam mengenai Iran ini diprediksi akan menguji fondasi relasi kedua negara dalam beberapa waktu mendatang, memicu kekhawatiran akan retaknya aliansi yang telah terjalin lama.

Zohar secara gamblang menyatakan bahwa "kepentingan keamanan kami akan menentukan langkah militer yang akan diambil," sebuah pernyataan yang menggarisbawahi keseriusan Israel dalam mempertahankan diri dari ancaman yang mereka persepsikan. Keraguan Israel juga tertuju pada efektivitas nota kesepahaman (MoU) yang baru saja diteken dan diresmikan antara AS dan Iran di Swiss. MoU tersebut disebut-sebut bertujuan mengakhiri "perang" yang pecah antara AS-Iran sejak 28 Februari lalu.

"Menurut saya, kesepakatan AS tidak akan menyelesaikan masalah senjata nuklir, dan fase perang akan kembali lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak orang," ujar Zohar, menyuarakan skeptisisme mendalam terhadap kemampuan perjanjian itu untuk membawa perdamaian jangka panjang. Pandangan ini mencerminkan kekhawatiran luas di kalangan pejabat Israel bahwa kesepakatan tersebut mungkin hanya menunda, bukan menyelesaikan, ancaman nuklir Iran.

Pernyataan Zohar muncul di tengah gelombang kritik yang meningkat di Israel terhadap pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengenai kebijakannya terhadap Iran. Kritik ini semakin menguat setelah Washington menandatangani MoU dengan Teheran. Banyak pejabat Israel mempertanyakan apakah kesepakatan tersebut benar-benar mampu mencegah Teheran untuk melanjutkan pengembangan program nuklirnya, yang selama ini menjadi sumber kekhawatiran utama Tel Aviv.

Di sisi lain, Amerika Serikat berargumen bahwa perjanjian tersebut krusial untuk meredakan ketegangan yang memanas dan mencegah pecahnya konfrontasi militer yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Washington berupaya menyeimbangkan antara menjaga stabilitas regional dan menangani ambisi nuklir Iran, sebuah tugas yang terbukti kompleks dan penuh tantangan. Perspektif ini kontras tajam dengan pandangan Israel yang melihatnya sebagai kompromi berbahaya.

Perpecahan ini tidak hanya terjadi di pihak Israel. Pekan lalu, Wakil Presiden AS JD Vance melontarkan kritik tajam terhadap para menteri di Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, karena menentang kesepakatan AS-Iran tersebut. Vance menyiratkan bahwa penolakan Israel justru mempersulit upaya diplomatik AS. Ini menandakan adanya kekecewaan yang tumbuh di Washington terhadap sikap Tel Aviv.

Presiden Trump sendiri secara blak-blakan mengaku frustrasi menghadapi Netanyahu, yang dicapnya mempersulit perundingan AS-Iran. Trump bahkan membuat klaim kontroversial, menyatakan bahwa Israel seharusnya berterima kasih kepadanya karena tanpa kepemimpinannya, tidak akan ada negara Israel hari ini. Pernyataan ini menunjukkan tingkat ketegangan pribadi dan politik yang tinggi antara kedua pemimpin yang seharusnya menjadi sekutu dekat.

Hubungan AS-Israel, meskipun kuat dan berakar pada kepentingan strategis bersama, memiliki sejarah panjang dalam menghadapi perbedaan pandangan, terutama terkait Iran. Selama pemerintahan Barack Obama, Israel juga menyuarakan keberatan keras terhadap perjanjian nuklir Iran (JCPOA) yang saat itu disepakati. Ketegangan saat ini mengulang pola serupa, di mana Israel merasa kepentingannya terancam oleh kesepakatan yang dianggap tidak cukup kuat untuk membendung ancaman nuklir Iran.

Ancaman Israel untuk mengambil langkah militer yang independen dan pernyataan keras dari kedua belah pihak menunjukkan bahwa isu Iran akan terus menjadi titik gesek utama dalam aliansi AS-Israel. Di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah yang kompleks, ketidaksepakatan ini berpotensi merombak peta aliansi dan memicu eskalasi yang tidak diinginkan, dengan konsekuensi yang jauh lebih luas bagi stabilitas kawasan. Masa depan hubungan kedua sekutu ini akan sangat ditentukan oleh bagaimana mereka menavigasi perbedaan fundamental ini di tengah ancaman yang terus membayangi.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All