Kementerian Luar Negeri Indonesia mengonfirmasi dua anak buah kapal (ABK) Warga Negara Indonesia (WNI) dilaporkan hilang di perairan Busan, Korea Selatan. Insiden ini terjadi menyusul tenggelamnya kapal penangkap ikan tempat mereka bekerja pada Kamis (25/6) lalu. Keduanya hilang setelah kapal tersebut bertabrakan dengan kapal lain yang lebih besar.
Direktur Perlindungan WNI Kemenlu, Heni Hamidah, menjelaskan bahwa peristiwa nahas tersebut terjadi sekitar pukul 10.10 waktu setempat. Kapal penangkap ikan berbobot 79 ton yang ditumpangi para ABK bertabrakan dengan sebuah kapal pengangkut LPG dengan bobot 992 ton. Tabrakan terjadi di perairan sekitar Gijang, Busan, sebuah kota pelabuhan penting di Korea Selatan.
Saat insiden tabrakan terjadi, terdapat total delapan ABK di atas kapal penangkap ikan tersebut. Rinciannya, enam di antaranya adalah WNI dan dua lainnya adalah Warga Negara Korea Selatan. Dari delapan ABK tersebut, enam orang berhasil diselamatkan, termasuk empat WNI. Namun, dua ABK WNI lainnya masih dalam pencarian intensif.
Menyikapi situasi darurat ini, Kementerian Luar Negeri Indonesia secara intensif berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul. Upaya pemantauan terus dilakukan untuk mendapatkan informasi terkini mengenai perkembangan pencarian dan kondisi para awak kapal yang terlibat.
Otoritas Korea Selatan tidak tinggal diam. Berbagai unsur pencarian dan penyelamatan telah dikerahkan untuk menemukan dua ABK WNI yang hilang. Armada yang dikerahkan meliputi kapal patroli dari Penjaga Pantai Korea (KCG), kapal dari Angkatan Laut Korea Selatan, helikopter, serta kapal-kapal pemerintah lainnya. Nelayan yang beroperasi di sekitar lokasi kejadian juga turut serta dalam operasi pencarian.
KBRI Seoul terus menjalin komunikasi erat dengan KCG untuk mendapatkan perkembangan terbaru mengenai operasi pencarian yang sedang berlangsung. Selain itu, KBRI juga telah menghubungi keluarga para awak kapal untuk menyampaikan informasi perkembangan terkini dan memberikan dukungan moril serta pendampingan yang dibutuhkan.
Kemenlu RI dan KBRI Seoul menegaskan komitmen mereka untuk terus memantau penanganan insiden ini. Koordinasi dengan otoritas setempat akan terus ditingkatkan untuk memastikan proses pencarian berjalan maksimal dan memberikan perhatian penuh terhadap perkembangan lebih lanjut.
Peristiwa ini kembali menyoroti risiko yang dihadapi oleh para pekerja migran Indonesia yang bekerja di sektor maritim internasional. Kerap kali, mereka berhadapan dengan kondisi kerja yang menantang dan potensi bahaya di laut lepas. Insiden di Busan ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan dan perlindungan yang memadai bagi para ABK Indonesia di luar negeri.
Pemerintah Indonesia, melalui Kemenlu dan KBRI, secara berkelanjutan berupaya memastikan keselamatan dan kesejahteraan WNI yang bekerja di luar negeri. Termasuk di dalamnya adalah penanganan cepat terhadap insiden seperti ini, mulai dari upaya pencarian, penyelamatan, hingga pendampingan bagi keluarga korban.
Langkah-langkah pencegahan dan peningkatan keselamatan pelayaran juga menjadi sorotan penting pasca kejadian serupa. Kerjasama internasional dalam bidang maritim dan penegakan hukum di laut diharapkan dapat meminimalkan risiko kecelakaan yang melibatkan kapal-kapal berbendera asing maupun kapal yang diawaki oleh tenaga kerja asing.
Meskipun informasi rinci mengenai penyebab pasti tabrakan masih dalam penyelidikan pihak berwenang Korea Selatan, fokus utama saat ini adalah pada upaya pencarian dua ABK WNI yang belum ditemukan. Harapan besar tertuju pada keberhasilan operasi pencarian yang sedang berlangsung agar kedua WNI tersebut dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat. Perkembangan selanjutnya akan terus dipantau dan dilaporkan.











