Ahli gizi memegang peranan penting dalam mengoptimalkan terapi berbasis agonis reseptor glukagon-like peptide-1 (GLP-1) bagi pasien penyakit ginjal kronis (CKD). Penggunaan obat-obatan golongan ini semakin meluas di kalangan pasien CKD, membuka peluang bagi para ahli gizi untuk memberikan kontribusi signifikan dalam perawatan yang terindividualisasi.
Sebuah komentar yang diterbitkan dalam jurnal Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) edisi Mei 2025 menyoroti potensi besar terapi incretin mimetic. Mengingat tingginya prevalensi obesitas di antara penderita diabetes dan CKD, terapi ini menawarkan solusi simultan untuk memperbaiki kontrol glukosa, menurunkan berat badan, dan meningkatkan hasil klinis secara keseluruhan. Para penulis KDIGO menyatakan, “Pekerjaan berat baru saja dimulai.” Pernyataan ini disetujui sepenuhnya, karena upaya optimalisasi terapi sejatinya telah dimulai bahkan sebelum resep obat dikeluarkan.
Terapi GLP-1, yang awalnya dikembangkan untuk manajemen diabetes, kini menunjukkan efektivitasnya dalam penanganan CKD, terutama pada pasien yang juga mengalami obesitas. Namun, implementasi yang efektif memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan ahli gizi. Mereka dapat berperan dalam memberikan edukasi nutrisi yang tepat, memantau asupan makanan, serta membantu pasien mengelola efek samping yang mungkin timbul dari terapi GLP-1, seperti mual atau perubahan pola makan.
Keterlibatan ahli gizi sejak awal proses pengobatan sangat krusial. Hal ini mencakup penilaian status gizi pasien secara menyeluruh, identifikasi kebutuhan nutrisi spesifik berdasarkan stadium CKD dan kondisi komorbiditas lainnya, serta penyusunan rencana makan yang seimbang dan sesuai. Dengan demikian, ahli gizi dapat membantu memaksimalkan manfaat terapi GLP-1 sekaligus meminimalkan risiko yang terkait dengan kondisi ginjal pasien.
