Musim liburan musim panas di Eropa kali ini diwarnai kekhawatiran akan potensi antrean panjang di berbagai bandara akibat implementasi sistem kontrol perbatasan digital baru Uni Eropa. Sistem yang dikenal sebagai Entry/Exit System (EES) ini mulai beroperasi penuh dan menjadi tantangan pertama bagi sektor pariwisata Eropa di puncak musim liburan pasca-pandemi.
Sistem EES dirancang untuk menggantikan stempel paspor manual dan mencatat secara digital siapa saja yang masuk dan keluar dari wilayah Schengen, zona bebas paspor yang mencakup 29 negara Eropa. Bagi warga negara dari luar Uni Eropa, termasuk wisatawan Inggris, sistem ini mewajibkan mereka untuk menyerahkan data biometrik seperti sidik jari dan foto, selain pemindaian paspor. Proses ini akan dilakukan di gerai otomatis sesaat setelah mendarat di negara tujuan, dengan verifikasi data dilakukan saat mereka meninggalkan wilayah Schengen. Beberapa kategori penumpang, seperti anak-anak di bawah usia 12 tahun, akan tetap menjalani pemeriksaan paspor oleh petugas perbatasan.
Sejak mulai diluncurkan secara bertahap pada Oktober tahun lalu, EES telah menunjukkan potensi menimbulkan penundaan signifikan. Periode pengenalan sistem ini sudah diwarnai dengan munculnya antrean panjang di beberapa bandara pada jam-jam sibuk. Meskipun demikian, implementasinya di bandara lain dilaporkan berjalan lancar. Namun, kekhawatiran tetap ada, dengan perkiraan dari perwakilan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) bahwa antrean di beberapa lokasi bisa mencapai enam jam.
Para pakar industri dan operator penerbangan mengaitkan potensi masalah ini dengan berbagai faktor, termasuk kendala teknologi pada sistem EES itu sendiri dan tingkat staf yang kurang memadai di pos pemeriksaan perbatasan. Laporan juga menyebutkan adanya kasus di mana penumpang harus melakukan registrasi data biometrik berulang kali, yang semakin memperpanjang waktu tunggu.
Menanggapi potensi masalah ini, pihak maskapai penerbangan telah memberikan imbauan kepada para penumpang. CEO Wizz Air di Inggris secara khusus menyarankan agar penumpang tiba tiga jam lebih awal sebelum jadwal penerbangan pulang mereka. Beberapa kasus penumpang terpaksa ketinggalan pesawat akibat antrean panjang untuk pemeriksaan EES. Kebijakan maskapai mengenai penundaan penerbangan bagi penumpang yang tertahan pun bervariasi; ada yang menyatakan kesediaan untuk menunggu sebisa mungkin, sementara maskapai seperti Ryanair secara tegas menyatakan tidak akan menunda jadwal penerbangan.
Puncak musim liburan musim panas ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagi efektivitas dan kesiapan sistem EES. Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang, Uni Eropa memberikan kelonggaran bagi beberapa negara. Yunani, misalnya, memilih untuk tidak menerapkan pemeriksaan biometrik bagi pengunjung Inggris selama periode puncak liburan. Komisi Eropa juga mengizinkan penangguhan sistem dalam "keadaan luar biasa yang menyebabkan waktu tunggu berlebihan" hingga September mendatang. Portugal telah mengambil langkah proaktif dengan mengumumkan penambahan ratusan petugas perbatasan untuk bulan Juli guna mengurai potensi kepadatan. Pihak pengelola bandara secara umum menyarankan penumpang untuk mengikuti arahan dari maskapai mereka mengenai waktu kedatangan di bandara.
Dampak EES tidak hanya dirasakan di udara. Di beberapa titik masuk utama seperti pelabuhan feri Dover, terminal Eurotunnel di Folkestone, dan stasiun kereta Eurostar di St Pancras, otoritas perbatasan Prancis telah melakukan pemeriksaan paspor sebelum keberangkatan penumpang dari Inggris. Meskipun ratusan mesin otomatis EES telah terpasang di lokasi-lokasi tersebut, penggunaannya belum sepenuhnya rutin. Saat ini, petugas perbatasan masih memainkan peran penting dalam sebagian proses. Bahkan sebelum sidik jari dan foto dikumpulkan secara penuh, antrean panjang kendaraan sempat terjadi di Dover saat awal libur pertengahan Mei, memaksa otoritas Prancis untuk menangguhkan proses tersebut. Untuk angkutan bus, rencananya bus akan disegel setelah penumpang menyelesaikan pemeriksaan EES sebelum melanjutkan perjalanan ke terminal feri.
Sebagai upaya mempermudah proses, Uni Eropa juga telah mengembangkan aplikasi seluler yang memungkinkan penumpang melakukan sebagian proses registrasi sebelum tiba di pos pemeriksaan perbatasan. Namun, saat ini, aplikasi tersebut baru diadopsi oleh dua negara; Swedia menggunakannya untuk registrasi data paspor dan foto, sementara Portugal memanfaatkannya untuk kuesioner masuk.
Selain EES, Uni Eropa juga bersiap meluncurkan sistem baru yang disebut European Travel Information and Authorisation System (ETIAS). Sistem ini merupakan program bebas visa yang terintegrasi dengan data paspor. Warga negara non-Uni Eropa yang tidak memerlukan visa untuk masuk ke wilayah UE, termasuk dari Inggris, akan diminta mengajukan permohonan otorisasi secara daring sebelum melakukan perjalanan. ETIAS dijadwalkan mulai berlaku pada akhir tahun 2026, meskipun tanggal pastinya belum dikonfirmasi. Biaya aplikasi ETIAS adalah 20 Euro (sekitar Rp 350.000) dan berlaku selama tiga tahun. Pemohon berusia di bawah 18 tahun dan di atas 70 tahun akan tetap diwajibkan mengajukan permohonan, namun dibebaskan dari biaya.











