Lima Duta Besar (Dubes) dari negara-negara sahabat menyatakan kekaguman mereka setelah mencicipi Fate Peri, hidangan tradisional Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berbahan dasar ulat bambu. Kelezatan dan keunikan cita rasa hidangan ini berhasil memikat para diplomat tersebut, termasuk Dubes Singapura Kwok Fook Seng yang secara khusus menilainya lezat.
Para diplomat yang hadir antara lain Dubes Singapura Kwok Fook Seng, Dubes Inggris Dominic Jermey, Dubes Mesir Yasser Elshemy, Dubes Jerman Ralf Beste, dan Dubes Italia Roberto Colamine. Mereka bersama-sama menikmati hidangan khas Pulau Flores tersebut dalam sebuah jamuan makan malam yang berlangsung di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta.
Fate Peri merupakan makanan tradisional NTT yang proses pembuatannya relatif sederhana namun menghasilkan rasa yang khas. Ulat bambu segar diolah dengan cara disangrai dan dibumbui hanya menggunakan garam. Makanan ini dikenal sebagai sumber protein tinggi yang sangat umum dikonsumsi di wilayah Bajawa, Flores.
Dubes Inggris Dominic Jermey menyampaikan apresiasinya yang mendalam atas undangan untuk merasakan kekayaan kuliner NTT. Dengan fasih menggunakan Bahasa Indonesia, ia memuji hidangan tersebut dengan ungkapan, "Untuk para Mama Wogo yang telah menyiapkan hidangan ini hanya ada satu kata: rasanya mantul." Pujian ini mencerminkan apresiasi terhadap upaya para perempuan lokal dalam melestarikan warisan kuliner.
Acara jamuan makan malam ini diselenggarakan bertepatan dengan pembukaan pameran wastra NTT bertajuk "Weaving Wonders" dan Forum Ekonomi Restoratif "Kunstkring Dialogue". Pameran dan forum ini menjadi platform penting untuk memamerkan kekayaan budaya dan potensi ekonomi NTT kepada khalayak yang lebih luas, termasuk para perwakilan negara sahabat.
Hidangan Fate Peri disiapkan oleh kelompok "Mama Wogo", yang merupakan nama sebuah kampung tradisional di Bajawa, Flores. Para Mama Wogo tidak hanya aktif dalam kegiatan konservasi yang memanfaatkan bambu sebagai sumber daya, tetapi juga berperan penting dalam mengelola Kebun Pangan Perempuan yang menyediakan sumber pangan lokal bergizi. Selain itu, mereka juga berdedikasi pada pelestarian kuliner tradisional.
Forum "Kunstkring Dialogue" yang berlangsung dari tanggal 24 hingga 26 Juni ini dirancang sebagai wadah diskusi ekonomi restoratif. Berbagai sesi diskusi akan membahas topik-topik krusial seperti energi terbarukan, pariwisata berkesadaran, serta kepemimpinan perempuan dalam sektor konservasi dan ekonomi desa. Forum ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk wakil menteri, akademisi, praktisi, dan perwakilan komunitas adat.
Tampak hadir dalam acara tersebut sejumlah tokoh penting, di antaranya Istri Dubes Slowakia Laura Ferko, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Isyana Bagoes Oka, serta Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Diana Kusumawati. Kehadiran para pejabat tinggi ini menunjukkan dukungan pemerintah terhadap upaya pemberdayaan masyarakat NTT.
Monica Tanuhandaru, Ketua Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL), menjelaskan visi di balik penyelenggaraan pameran dan forum ini. "Kalau pada pameran Weaving Wonders kita tampilkan betapa tangguhnya perempuan NTT dalam menghadapi berbagai tantangan, seperti kemiskinan, kurangnya akses pendidikan, stunting, dan kekerasan rumah tangga. Bahkan saat menghadapi tantangan berlapis seperti itu mereka tetap mampu menghasilkan karya-karya indah. Maka pada Kunstkring Dialogue, kita menyusun langkah bersama banyak pihak untuk berkolaborasi mendampingi dan bekerja bersama para perempuan ini," ujarnya.
"Weaving Wonders" dan "Kunstkring Dialogue" merupakan hasil kolaborasi antara YBLL dengan Penabulu Oxfam dan Yayasan Uma Nusantara. Ketiga organisasi ini memiliki rekam jejak panjang dalam bekerja di tingkat akar rumput untuk memberdayakan masyarakat pedesaan di NTT. Fokus mereka adalah pada peningkatan kualitas hidup dan kemandirian ekonomi masyarakat setempat.
Wakil Menteri PPPA Veronica Tan menambahkan bahwa kehadiran para duta besar menjadi momentum penting dalam upaya memperluas jaringan dukungan bagi para Mama Wogo. "Kehadiran para duta besar ini merupakan upaya kita untuk memperluas jaringan dukungan bagi para mama dan membuka jalan untuk membawa karya-karya mereka ke dunia internasional," tegasnya. Kerjasama internasional diharapkan dapat membuka pasar baru bagi produk-produk kerajinan dan kuliner NTT, serta meningkatkan kesejahteraan para pengrajin dan pelaku usaha di daerah tersebut.
Pengalaman mencicipi ulat bambu oleh para duta besar ini bukan sekadar momen kuliner, melainkan sebuah representasi dari upaya pengenalan potensi ekonomi dan budaya NTT ke kancah global. Melalui hidangan tradisional yang unik, pesan tentang ketangguhan, kreativitas, dan kekayaan alam NTT dapat tersampaikan, membuka peluang kolaborasi dan investasi di masa depan. Inisiatif seperti ini sangat krusial dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di daerah yang kaya akan potensi namun seringkali menghadapi tantangan pembangunan.











