Friday, 21 August 2026
BREAKING
DUNIA

148 Titik Panas Terdeteksi di Sarawak Akibat Dampak Karhutla Indonesia

Oleh Heni Maulidya August 21, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Sebanyak 148 titik panas atau hotspot terpantau di negara bagian Sarawak, Malaysia, dalam periode 1 hingga 19 Agustus. Angka ini mengindikasikan adanya dampak signifikan dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah sekitarnya, termasuk Indonesia.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) melaporkan data ini. Titik panas tersebut terdeteksi menggunakan satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen. Pantauan ini dilakukan untuk memantau perkembangan karhutla yang berpotensi melintasi batas negara.

Berdasarkan data KLHK, pada tanggal 19 Agustus 2023 saja, terdeteksi 38 titik panas di Sarawak. Angka ini merupakan peningkatan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Pada 18 Agustus, tercatat 24 titik panas, sementara pada 17 Agustus terdapat 22 titik panas di wilayah yang sama.

Sebelumnya, pada tanggal 16 Agustus, jumlah titik panas yang terdeteksi di Sarawak mencapai 15 titik. Tren peningkatan ini mengkhawatirkan dan menunjukkan bahwa asap serta dampak karhutla dari Indonesia terus menyebar ke negara tetangga.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, Ir. Basar Manullang, M.Sc., menyatakan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan karhutla secara intensif. “Kita terus memantau dengan citra satelit NOAA, Terra Aqua, dan Sentinel. Untuk titik panas di Sarawak, memang ada peningkatan,” ujar Basar Manullang dalam keterangan tertulisnya.

KLHK juga terus berupaya memadamkan api di dalam negeri. Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk pengerahan personel, penggunaan teknologi modifikasi cuaca, dan patroli udara. Data terkini menunjukkan bahwa upaya pemadaman terus dilakukan secara masif di berbagai provinsi yang terdampak karhutla.

Peningkatan jumlah titik panas di Sarawak ini menjadi pengingat akan pentingnya kolaborasi antarnegara dalam menangani masalah karhutla yang bersifat lintas batas. Asap yang dihasilkan dari kebakaran tersebut tidak hanya berdampak pada kualitas udara di Indonesia, tetapi juga mempengaruhi negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Bagikan: Facebook X WhatsApp