Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim kembali menegaskan posisi negaranya yang mengakui prinsip ‘Satu China’, yang menganggap Taiwan sebagai provinsi yang sah dari Republik Rakyat Tiongkok. Pernyataan ini disampaikan Anwar dalam sebuah wawancara baru-baru ini, yang disambut hangat oleh pemerintah Beijing.
Dalam wawancara dengan Bloomberg pada 7 Mei 2024, Anwar Ibrahim menyatakan, “Kami tetap pada kebijakan ‘Satu China’. Kami mengakui bahwa Taiwan adalah bagian dari Tiongkok.” Ia menekankan bahwa Malaysia tidak akan mengubah pendiriannya terkait isu sensitif ini, meskipun ada dinamika geopolitik yang berkembang di kawasan.
Pernyataan Anwar Ibrahim ini sejalan dengan kebijakan luar negeri Malaysia yang telah lama dianut. Posisi ini penting mengingat kompleksitas hubungan internasional terkait status Taiwan, yang diklaim oleh Beijing namun diperintah secara mandiri. Malaysia telah menjalin hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat Tiongkok sejak 1974.
Pemerintah Tiongkok, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Mao Ning, memberikan apresiasi atas sikap konsisten Malaysia. “Kami sangat menghargai pernyataan Perdana Menteri Anwar Ibrahim yang kembali menegaskan komitmen Malaysia terhadap prinsip ‘Satu China’,” ujar Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing pada 10 Mei 2024. Ia menambahkan bahwa Tiongkok percaya Malaysia akan terus menangani isu Taiwan dengan cara yang tepat.
Komentar Anwar Ibrahim muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Tiongkok dan Taiwan, serta perhatian global terhadap potensi konflik di Selat Taiwan. Banyak negara, termasuk Amerika Serikat, memiliki kebijakan ambigu terhadap Taiwan, mengakui prinsip ‘Satu China’ namun juga mempertahankan hubungan tidak resmi yang kuat dengan Taipei dan memberikan dukungan pertahanan.
Malaysia, sebagai negara dengan hubungan ekonomi yang erat dengan kedua belah pihak, memilih untuk menavigasi isu ini dengan hati-hati. Penegasan kembali prinsip ‘Satu China’ oleh Anwar Ibrahim menunjukkan bahwa Kuala Lumpur memprioritaskan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Tiongkok, sekaligus menjaga stabilitas regional. Sikap ini diharapkan dapat meredakan kekhawatiran Beijing dan memperkuat kerja sama bilateral di berbagai bidang.
