Sensasi kesemutan di kepala, yang seringkali dianggap sepele atau hanya dipicu oleh stres dan migrain, ternyata dapat mengindikasikan adanya gangguan saraf hingga kondisi medis yang memerlukan perhatian darurat. Fenomena ini bisa menjadi sinyal awal dari berbagai penyakit yang berpotensi membahayakan.
Ahli saraf sekaligus Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. dr. Himawan Prasetyo, Sp.S(K), M.Sc, menjelaskan bahwa kesemutan di kepala bukanlah keluhan yang bisa diabaikan. Ia merinci, “Kesemutan di kepala itu bisa saja berkaitan dengan gangguan pada sistem saraf pusat maupun perifer.” Lebih lanjut, ia menggarisbawahi bahwa kondisi ini bisa saja menjadi pertanda awal dari 11 penyakit gawat darurat yang memerlukan penanganan segera.
Salah satu kemungkinan penyebab kesemutan di kepala adalah stroke. Menurut Himawan, gejala stroke tidak selalu berupa kelumpuhan mendadak, melainkan bisa diawali dengan sensasi abnormal seperti kesemutan. “Bisa jadi itu pertanda awal stroke, ada gangguan pada saraf. Gejala stroke itu tidak hanya kelumpuhan, bisa juga kesemutan,” ungkapnya pada sebuah kesempatan.
Selain stroke, kesemutan di kepala juga bisa berkaitan dengan kondisi neurologis lain seperti multiple sclerosis. Penyakit autoimun ini menyerang selubung pelindung saraf di otak dan sumsum tulang belakang, yang dapat menimbulkan berbagai gejala termasuk kesemutan.
Gangguan peredaran darah ke otak, seperti transient ischemic attack (TIA) atau stroke ringan, juga patut dicurigai. TIA merupakan peringatan dini stroke yang gejalanya mirip stroke namun bersifat sementara.
Kekurangan vitamin B12 yang krusial untuk kesehatan saraf juga dapat bermanifestasi sebagai kesemutan. Defisiensi ini bisa terjadi akibat pola makan yang tidak seimbang atau gangguan penyerapan nutrisi.
Kondisi seperti tumor otak, meskipun jarang, dapat menekan saraf dan menyebabkan gejala kesemutan di kepala. Tumor yang tumbuh di dalam rongga tengkorak bisa menimbulkan berbagai keluhan neurologis tergantung lokasinya.
Penyakit diabetes yang tidak terkontrol dapat menyebabkan neuropati diabetik, yaitu kerusakan saraf yang dapat memengaruhi berbagai bagian tubuh, termasuk kepala, yang dirasakan sebagai kesemutan.
Infeksi pada otak atau selaput otak, seperti meningitis atau ensefalitis, juga bisa memicu peradangan yang mengganggu fungsi saraf dan menimbulkan sensasi kesemutan.
Cedera kepala, bahkan yang ringan sekalipun, berpotensi menyebabkan gangguan pada saraf dan menimbulkan gejala kesemutan yang persisten.
Migrain, seperti yang telah disebutkan, merupakan pemicu umum kesemutan, namun kesemutan yang menyertai migrain bisa jadi lebih intens dan mengkhawatirkan.
Gangguan kecemasan atau serangan panik juga dapat memicu gejala fisik termasuk kesemutan di kepala, akibat perubahan kimia otak saat stres.
Terakhir, penyakit autoimun lain selain multiple sclerosis, seperti lupus, juga dapat memengaruhi sistem saraf dan menimbulkan gejala kesemutan.
Mengingat beragamnya potensi penyebab yang serius, Himawan menekankan pentingnya segera berkonsultasi dengan dokter jika mengalami kesemutan di kepala yang tidak biasa atau berkepanjangan. Diagnosis dini dan penanganan yang tepat dapat mencegah komplikasi yang lebih parah.
