YOGYAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan dukungan penuh terhadap inovasi pemanfaatan gas bumi berbasis Compressed Natural Gas (CNG) clustering yang diinisiasi oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN). Langkah ini menjadi krusial dalam memperluas akses masyarakat Yogyakarta terhadap energi gas bumi yang aman, andal, dan efisien, khususnya untuk kebutuhan rumah tangga. Kabupaten Sleman menjadi pionir implementasi skema CNG clustering ini, memungkinkan warga setempat menikmati gas bumi untuk keperluan memasak sehari-hari.
Keberhasilan proyek percontohan (showcase) CNG clustering di Sleman ini mendapatkan apresiasi langsung dari Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, saat kunjungan kerjanya pada Jumat, 19 Juni lalu. Yuliot Tanjung menyoroti kesiapan PGN dalam menerapkan jargas berbasis CNG di Sleman, yang dinilai sejalan dengan dorongan pemerintah untuk penggunaan gas bumi sebagai energi transisi yang lebih bersih. Selain itu, pemanfaatan gas bumi domestik ini juga berkontribusi dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Pemerintah melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 menargetkan pengembangan sekitar 350 ribu sambungan rumah tangga per tahun melalui berbagai skema pendanaan. Skema CNG clustering yang diterapkan PGN di Sleman menjadi salah satu solusi inovatif untuk mencapai target tersebut, terutama di daerah yang belum terjangkau jaringan pipa gas bumi konvensional.
“Penggunaan CNG dan jargas berdampak pada efisiensi Ibu-ibu rumah tangga, praktis dan aman. Sedangkan bagi Pemerintah dapat mengurangi konsumsi LPG Subsidi dan mengurangi beban subsidi dan impor LPG,” ujar Yuliot Tanjung, menekankan manfaat ganda dari inovasi ini. Ia menambahkan bahwa pengurangan konsumsi LPG bersubsidi akan meringankan beban anggaran negara sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor.
Direktur Utama PGN, Arief K. Risdianto, menyambut baik kunjungan Wakil Menteri ESDM dan mengapresiasi dukungan penuh dari Kementerian ESDM serta seluruh pemangku kepentingan terkait. Ia menegaskan bahwa keberhasilan implementasi CNG clustering di Sleman membuktikan bahwa inovasi ini dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia. Skema ini memungkinkan distribusi gas bumi yang aman dan andal ke jaringan rumah tangga tanpa harus menunggu pembangunan jaringan pipa transmisi utama yang memakan waktu dan biaya lebih besar.
Arief menjelaskan bahwa keamanan menjadi prioritas utama dalam sistem CNG clustering. Gas bumi bertekanan tinggi sekitar 200 bar telah diadaptasi dengan sistem cluster untuk memastikan aliran yang aman hingga ke dapur rumah tangga. Dengan pengawasan ketat dan penggunaan teknologi Pressure Regulating Station (PRS) yang andal, aliran gas bumi ke setiap rumah dipastikan aman untuk penggunaan sehari-hari.
Lebih lanjut, Arief menambahkan bahwa kehadiran jargas berbasis CNG ini tidak hanya meningkatkan kepraktisan dan ketenangan bagi rumah tangga dalam beraktivitas memasak, tetapi juga merupakan kontribusi nyata PGN dalam membantu pemerintah meringankan beban anggaran negara. Pengurangan ketergantungan pada impor dan subsidi energi merupakan langkah strategis untuk kemandirian energi nasional.
Hingga kini, PGN telah berhasil membangun lebih dari 4.500 Sambungan Rumah (SR) di Sleman dengan membentangkan jaringan pipa distribusi sepanjang lebih dari 141 kilometer. Rata-rata penyaluran gas bumi kepada pelanggan Jargas Sleman mencapai sekitar 84 ribu meter kubik (M3) per bulan. Angka ini setara dengan pengurangan konsumsi LPG sekitar 64 metrik ton per bulan, menunjukkan dampak signifikan dari program ini.
Potensi pemanfaatan jargas di Sleman tidak terbatas pada sektor rumah tangga. PGN berencana untuk terus memperluas jangkauan layanan gas bumi ke berbagai sektor ekonomi lokal. Mulai dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), restoran, perhotelan, hingga fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, semuanya diharapkan dapat merasakan manfaat energi gas bumi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Dalam mengimplementasikan layanan "beyond pipeline" ini, PGN mengoptimalkan sinergi dengan anak perusahaannya, PT Gagas Energi Indonesia (Gagas). Gagas memiliki rekam jejak yang solid dalam pengelolaan distribusi gas non-pipa, termasuk CNG. Saat ini, PGN melalui Gagas mengelola dan mengoperasikan 14 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG)/Mother Station serta 4 Mobile Refueling Unit (MRU) yang telah menjangkau berbagai konsumen CNG di sektor transportasi, komersial, dan industri di berbagai wilayah Indonesia.
Salah satu contoh nyata pemanfaatan CNG di sektor komersial adalah Rumah Makan Payakumbuah Yogyakarta. Dengan penggunaan CNG mencapai 2.000 hingga 2.300 M3 per bulan, rumah makan ini merasakan efisiensi biaya energi yang signifikan. Dibandingkan dengan penggunaan energi sebelumnya, pemakaian CNG mampu menghemat biaya operasional sekitar 30 hingga 33%.
Arief K. Risdianto menutup pernyataannya dengan menegaskan komitmen PGN. “PGN telah memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan gas bumi, baik melalui jaringan pipa maupun moda non-pipa seperti CNG maupun LNG. Sebagai Subholding Gas Pertamina, kami siap mendukung langkah Pemerintah dalam merumuskan pemanfaatan implementasi CNG yang tepat sasaran dan berperan aktif dalam target diversifikasi energi nasional,” ujarnya. Melalui sinergi yang erat, PGN berkomitmen untuk memastikan bahwa manfaat gas bumi dapat dirasakan secara adil dan berkelanjutan oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Inisiatif ini menjadi langkah strategis dalam mewujudkan energi yang lebih bersih, terjangkau, dan ramah lingkungan bagi masyarakat.











