Presiden Rusia Vladimir Putin mengemukakan gagasan ambisius untuk mengurangi dominasi dolar Amerika Serikat dalam transaksi internasional. Gagasan ini dilontarkan saat pertemuan KTT Rusia-ASEAN di Kazan, di mana Putin mengumpulkan 11 pemimpin negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Inisiatif ini bertujuan mendorong penggunaan mata uang nasional masing-masing negara dalam perdagangan, sebuah langkah yang disebut sebagai aksi dedolarisasi yang lebih luas.
Manuver strategis ini menjadi penegasan Rusia untuk mendobrak hegemoni finansial Barat. Melalui rangkulan negara-negara Asia Tenggara, Moskow berupaya menggalang dukungan kolektif untuk menghentikan ketergantungan pada dolar AS dan euro dalam setiap pergerakan perdagangan global. Putin secara tegas menyatakan pentingnya transisi menuju penggunaan mata uang lokal.
"Para peserta menyatakan dukungannya untuk meningkatkan indikator perdagangan timbal balik secara kualitatif dan kuantitatif. Untuk melakukan ini, sangat penting bagi kita untuk segera beralih dari transaksi keuangan (menggunakan Dolar) ke mata uang nasional masing-masing," ujar Putin dalam konferensi pers penutupan KTT tersebut. Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen Rusia untuk mendorong sistem keuangan yang lebih mandiri dan tidak rentan terhadap tekanan eksternal.
Rusia tidak hanya sekadar melontarkan retorika politik. Negara beruang merah ini menunjukkan progres nyata dalam membangun sistem keuangan alternatif yang diklaim tahan banting terhadap sanksi ekonomi Barat. Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Maksim Oreshkin, Wakil Kepala Administrasi Kepresidenan Rusia, target ambisius ditetapkan bahwa pada akhir tahun 2025, sekitar 85% transaksi internasional Rusia akan berhasil dilakukan tanpa melibatkan dolar AS maupun euro.
Sebagai imbalan atas dukungan negara-negara ASEAN, Rusia menawarkan jaminan pasokan komoditas vital dalam jangka panjang. Putin secara spesifik menjanjikan Rusia akan terus menjadi pemasok utama produk pangan dan energi bagi kawasan Asia Tenggara. Lebih dari itu, Rusia siap memperluas ekspor produk bernilai tambah tinggi seperti pupuk dan obat-obatan (farmasi) ke negara-negara anggota ASEAN, menunjukkan komitmen untuk kemitraan ekonomi yang lebih mendalam.
KTT Rusia-ASEAN yang menandai 35 tahun hubungan bilateral ini tidak hanya berfokus pada dedolarisasi. Kedua belah pihak juga menyepakati Rencana Aksi Baru untuk periode 2026-2030. Rencana ini mencakup kerja sama yang komprehensif di berbagai bidang, mulai dari politik dan keamanan, hingga investasi, ekonomi digital, serta pengembangan infrastruktur transportasi laut dan kereta api. Tujuannya adalah untuk memangkas hambatan tarif perdagangan dan memperlancar arus barang serta jasa.
Narasi dedolarisasi ini tampaknya menemukan resonansi yang kuat di kalangan negara-negara berkembang, termasuk di Asia Tenggara. Ketergantungan yang berlebihan pada dolar AS selama ini telah membuat mata uang lokal seperti rupiah rentan terhadap fluktuasi nilai yang signifikan. Setiap kali bank sentral Amerika Serikat (The Fed) mengubah kebijakan suku bunganya, mata uang negara-negara berkembang seringkali mengalami tekanan hebat, mengganggu stabilitas ekonomi domestik.
Gerakan dedolarisasi bukan hanya fenomena yang terjadi di KTT Rusia-ASEAN. Dalam beberapa waktu terakhir, tren ini semakin menguat di berbagai belahan dunia. China, misalnya, secara agresif terus memperluas penggunaan mata uang Yuan dalam perdagangan internasional. Kolaborasi antara China dan Indonesia dalam hal dedolarisasi bahkan telah mencapai angka yang signifikan, di mana dalam empat bulan terakhir, kedua negara berhasil membuang dolar senilai Rp229,6 triliun. Ini menunjukkan bahwa dorongan untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah strategi ekonomi yang mulai diimplementasikan secara nyata oleh sejumlah negara.
Konteks global saat ini, dengan ketidakpastian ekonomi dan ketegangan geopolitik yang terus meningkat, semakin mendorong negara-negara untuk mencari alternatif sistem keuangan yang lebih stabil dan mandiri. Pembentukan tatanan dunia multipolar, di mana kekuatan ekonomi tidak lagi terpusat pada segelintir negara, menjadi salah satu dorongan utama di balik gerakan dedolarisasi ini. ASEAN, dengan posisinya yang strategis dan potensi ekonomi yang besar, menjadi mitra penting bagi Rusia dalam upaya mewujudkan visi ini.
Implikasi jangka panjang dari inisiatif ini bisa sangat signifikan. Jika dedolarisasi berhasil diterapkan secara luas, ini dapat mengubah lanskap keuangan global secara fundamental. Dominasi dolar AS yang telah berlangsung selama beberapa dekade dapat terkikis, membuka jalan bagi mata uang lain atau bahkan sistem pembayaran baru yang lebih terdesentralisasi. Bagi Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya, langkah ini menawarkan peluang untuk meningkatkan kedaulatan ekonomi dan mengurangi kerentanan terhadap gejolak eksternal.
Namun, tantangan yang dihadapi juga tidak ringan. Transisi dari sistem yang didominasi dolar AS memerlukan adaptasi besar-besaran dalam infrastruktur keuangan, sistem pembayaran, dan kesepakatan perdagangan internasional. Dibutuhkan kerja sama yang solid antar negara, serta kepercayaan yang kuat terhadap mata uang nasional masing-masing. Keberhasilan inisiatif ini akan sangat bergantung pada sejauh mana negara-negara anggota ASEAN dapat mengimplementasikan kesepakatan yang telah dicapai dan seberapa efektif Rusia dapat memenuhi janjinya sebagai mitra dagang.
Perkembangan selanjutnya dari KTT Rusia-ASEAN ini akan terus dipantau. Upaya Putin untuk merangkul ASEAN dalam gerakan dedolarisasi ini menandai babak baru dalam dinamika ekonomi global, di mana negara-negara mulai secara serius mencari alternatif untuk menyeimbangkan kekuatan finansial yang ada.











