Washington, AS – Rencana perdamaian 15 poin yang diusulkan oleh mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk Gaza dilaporkan telah ditolak oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Namun, pemerintahan Trump disebut tidak terpengaruh oleh penolakan tersebut, menganggapnya sebagai bagian dari strategi kampanye menjelang pemilihan umum di Israel.
Trump sendiri, melalui juru bicaranya, menyatakan bahwa ia tidak terkejut dengan respons Netanyahu. “Saya tidak terkejut bahwa Benjamin Netanyahu tidak mengutamakan perdamaian dan kesepakatan yang saya buat. Dia tidak pernah melakukannya,” ujar Trump dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Sabtu (18/5).
Pernyataan Trump tersebut menggarisbawahi bahwa dirinya telah mengetahui sebelumnya bahwa Netanyahu kemungkinan besar akan menolak proposal tersebut. Trump juga menyindir bahwa Netanyahu kemungkinan akan menundanya hingga setelah pemilu mendatang di Israel, yang tampaknya sesuai dengan pandangan pemerintahan Trump saat ini.
Rencana 15 poin tersebut, yang dilaporkan dirancang oleh Trump sebagai bagian dari upayanya untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina, diajukan kepada Netanyahu. Meskipun detail lengkap dari rencana tersebut belum diungkapkan ke publik, penolakan dari Netanyahu telah menjadi sorotan utama.
Pemerintahan Trump, bahkan sebelum penolakan resmi Netanyahu, sudah mengantisipasi kemungkinan adanya resistensi. Mereka memandang respons awal Netanyahu lebih sebagai manuver politik yang bertujuan untuk mengamankan posisinya di dalam negeri daripada sebagai penolakan final terhadap prinsip-prinsip kesepakatan. Sikap ini mencerminkan pemahaman bahwa dalam konteks politik Israel, terutama menjelang pemilu, keputusan strategis seringkali dipengaruhi oleh perhitungan elektoral.
Lebih lanjut, Trump mengklaim bahwa rencana perdamaiannya akan menjadi yang terbaik untuk Israel dan Palestina. Ia juga menyindir bahwa Netanyahu mungkin akan mencari kesepakatan yang berbeda jika ia tetap memegang kekuasaan. Trump menegaskan bahwa ia telah melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam upaya perdamaian di Timur Tengah, termasuk kesepakatan Abraham Accords, dan merasa yakin bahwa rencananya kali ini juga akan memberikan hasil yang positif.
Penolakan Netanyahu ini menambah kompleksitas upaya internasional untuk mencari solusi damai di Timur Tengah. Namun, dengan pandangan dari pihak Trump yang melihatnya sebagai dinamika kampanye, kemungkinan besar negosiasi atau proposal serupa dapat muncul kembali setelah proses pemilihan umum di Israel selesai.
