Keluhan asam lambung kerap muncul di tengah padatnya rutinitas kerja. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi-hepatologi, Dr. dr. Dian Pratiwi, Sp.PD-KGEH, mengingatkan pentingnya menjaga pola makan teratur dan mengelola stres sebagai langkah pencegahan utama terhadap penyakit asam lambung atau GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).
Menurut Dr. Dian, stres merupakan salah satu faktor utama yang dapat memperparah kondisi asam lambung. “Ketika stres, produksi asam lambung bisa meningkat, sehingga memicu gejala GERD seperti rasa terbakar di dada, nyeri ulu hati, hingga kesulitan menelan,” jelasnya dalam webinar “Kenali Penyebab Asam Lambung Saat Bekerja & Kapan Perlu Endoskopi” yang diselenggarakan oleh RS Pondok Indah Group pada Kamis (15/2/2024).
Selain stres, pola makan yang tidak teratur juga menjadi kontributor signifikan. Melewatkan waktu makan atau mengonsumsi makanan pedas, asam, berlemak, serta minuman berkafein dan bersoda dapat memicu naiknya asam lambung. “Penting untuk makan dengan porsi kecil namun lebih sering, hindari makan berat menjelang tidur, dan beri jeda minimal dua hingga tiga jam sebelum berbaring,” imbuh Dr. Dian.
Dr. Dian juga menyoroti kebiasaan lain yang perlu dihindari, seperti merokok dan mengonsumsi alkohol. Kedua hal ini dapat melemahkan katup kerongkongan bagian bawah (lower esophageal sphincter/LES), yang berfungsi mencegah asam lambung naik ke kerongkongan. Selain itu, obesitas juga meningkatkan tekanan pada perut, mendorong asam lambung ke atas.
Mengenai kapan pemeriksaan endoskopi diperlukan, Dr. Dian menjelaskan bahwa tindakan ini menjadi pilihan ketika gejala GERD tidak membaik dengan pengobatan awal, atau ketika muncul tanda bahaya (alarm symptom). “Tanda bahaya ini meliputi penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, kesulitan menelan (disfagia), nyeri saat menelan (odinofagia), muntah darah, BAB hitam seperti ter, hingga benjolan di perut,” paparnya.
Endoskopi, atau gastroskopi, adalah prosedur medis yang memungkinkan dokter melihat langsung kondisi lapisan saluran pencernaan bagian atas, mulai dari kerongkongan, lambung, hingga usus dua belas jari. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan selang berkamera melalui mulut pasien. “Dengan endoskopi, kita bisa mendiagnosis kelainan seperti peradangan, tukak, pendarahan, atau bahkan keganasan, serta mengambil sampel jaringan (biopsi) jika diperlukan untuk pemeriksaan lebih lanjut,” tutup Dr. Dian.
