Fabio Quartararo, pembalap Yamaha, menduga masalah panas berlebih pada ban belakang menjadi kunci keunggulan Aprilia dan sekaligus penyebab melorotnya performa sejumlah pebalap Ducati dalam balapan sprint MotoGP di Sirkuit Silverstone. Dominasi Aprilia terlihat jelas di lintasan, sementara beberapa nama besar dari pabrikan Borgo Panigale justru kesulitan mempertahankan ritme.
Menurut Quartararo, fenomena ini patut dicermati lebih lanjut oleh tim-tim lain. Ia mengamati bahwa ketika suhu lintasan meningkat, ban belakang menjadi komponen yang paling rentan mengalami degradasi. Hal ini berimplikasi langsung pada kemampuan motor untuk mempertahankan traksi dan kecepatan di tikungan maupun lintasan lurus.
“Saya pikir masalah ban belakang yang terlalu panas adalah penjelasannya,” ujar Quartararo, seperti dikutip dari MotoGP.com. Ia menambahkan bahwa fenomena ini tidak hanya dialami oleh satu atau dua pebalap, melainkan menjadi pola yang terlihat pada beberapa rider Ducati yang sebelumnya menunjukkan kecepatan impresif. “Beberapa rider Ducati, terutama di akhir balapan, mereka sedikit melorot. Itu karena ban belakang terlalu panas,” jelasnya.
Quartararo, yang finis di posisi keenam dalam sprint race tersebut, membandingkan performa motornya dengan Aprilia yang tampil luar biasa. Aleix Espargaro berhasil meraih kemenangan, diikuti oleh Maverick Vinales di posisi kedua. Keberhasilan kedua pebalap Aprilia ini, menurut Quartararo, menunjukkan bahwa motor RS-GP memiliki keunggulan dalam pengelolaan ban, terutama dalam kondisi lintasan yang menantang seperti di Silverstone.
“Mereka (Aprilia) sangat kuat di sini. Mereka sangat cepat. Saya pikir mereka menemukan sesuatu yang sangat baik untuk motor mereka,” lanjut Quartararo. Ia mengakui bahwa Aprilia telah menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam beberapa seri terakhir, dan Silverstone menjadi bukti nyata kehebatan mereka. Keunggulan Aprilia dalam mengelola ban belakang yang panas menjadi faktor krusial yang perlu dianalisis oleh tim-tim rival, termasuk Yamaha.
Sementara itu, Quartararo sendiri harus berjuang keras untuk mengamankan posisi enam besar. Meski mampu bersaing di awal balapan, ia juga merasakan dampak dari degradasi ban yang dialaminya. Pengalaman ini menjadi pembelajaran berharga bagi Yamaha dalam upaya mereka meningkatkan performa motor untuk seri-seri berikutnya. Pembalap asal Prancis itu menekankan pentingnya memahami dan mengatasi masalah panas berlebih pada ban agar dapat bersaing secara konsisten di papan atas.
