Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 5,75 persen dari sebelumnya 5,25 persen mulai menunjukkan imbasnya pada sektor properti nasional. Para pengembang properti kini menghadapi tantangan signifikan berupa penurunan minat beli yang cukup tajam, terutama menyasar segmen rumah komersial kelas menengah yang umumnya memiliki rentang harga antara Rp350 juta hingga Rp1 miliar. Fenomena ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Menurut Ketua Aliansi Pengembang Perumahan Nasional (Appernas Jaya), Andre Bangsawan, kenaikan BI Rate ini paling terasa dampaknya pada rumah-rumah dengan banderol harga di kisaran Rp300 juta hingga Rp1 miliar. "Kenaikan BI Rate ini menurut pendapat saya, itu rumah yang harga 300 juta sampai 1 miliar itu yang berasa kena," ujar Andre kepada iNews Media Group pada Minggu, 21 Juni 2026. Ia menambahkan bahwa dampak tersebut sudah mulai terlihat jelas sejak kebijakan suku bunga baru diterapkan.
Andre Bangsawan mengungkapkan bahwa gejolak ekonomi global, yang ditandai dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menguat, sebenarnya telah diantisipasi oleh para pelaku industri properti sejak jauh-jauh hari. Namun, ketika kebijakan moneter yang lebih ketat secara resmi diketuk palu, efeknya langsung terasa pada perhitungan finansial calon konsumen, khususnya terkait kemampuan mereka untuk mencicil Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Dampak kenaikan BI Rate ini sangat kentara jika kita melihat simulasi cicilan KPR. Sebagai contoh, untuk pengajuan KPR senilai Rp1 miliar dengan jangka waktu cicilan selama 15 tahun, sebelumnya dengan suku bunga rendah sekitar 4 persen, cicilan bulanan yang harus dibayar konsumen hanya berkisar Rp7,4 juta. Angka ini kini melompat drastis, dengan estimasi cicilan bulanan yang bisa menembus angka Rp8 juta lebih. Selisih lebih dari Rp600 ribu per bulan ini tentu menjadi beban tambahan yang signifikan bagi nasabah.
Perubahan ini secara langsung memengaruhi daya beli masyarakat kelas menengah yang menjadi target utama segmen properti komersial. Kenaikan cicilan bulanan yang terasa substansial membuat banyak calon pembeli menunda atau bahkan membatalkan rencana pembelian rumah mereka. Bagi mereka, selisih jutaan rupiah setiap bulannya untuk cicilan KPR bisa sangat memengaruhi alokasi anggaran rumah tangga.
Berbeda dengan segmen rumah kelas menengah, pasar rumah mewah yang dibanderol dengan harga di atas Rp2 miliar dilaporkan cenderung lebih stabil. Andre Bangsawan menjelaskan bahwa kelas ekonomi konsumen di segmen ini umumnya tidak terlalu sensitif terhadap fluktuasi nilai cicilan bulanan KPR. Mereka memiliki kemampuan finansial yang lebih kuat untuk menyerap kenaikan suku bunga, sehingga dampaknya tidak sedrastis yang dialami oleh konsumen kelas menengah.
Stabilitas segmen rumah mewah ini juga didukung oleh faktor lain, seperti tujuan investasi atau kepemilikan aset yang lebih bersifat jangka panjang dan tidak terlalu terbebani oleh pertimbangan cicilan bulanan semata. Bagi para pembeli di segmen ini, nilai properti sebagai aset dan prestise seringkali menjadi pertimbangan utama dibandingkan besaran cicilan KPR.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi para pengembang yang selama ini mengandalkan segmen rumah kelas menengah sebagai pilar utama penjualan mereka. Dengan menurunnya minat beli, para pengembang terpaksa harus melakukan evaluasi ulang terhadap strategi pemasaran dan pengembangan produk mereka. Beberapa langkah antisipasi yang mungkin diambil antara lain adalah menawarkan berbagai promo menarik, meninjau kembali strategi penetapan harga, atau bahkan menggeser fokus pengembangan ke segmen pasar yang lain.
Penting untuk dicatat bahwa kebijakan kenaikan suku bunga acuan BI ini merupakan respons terhadap tantangan ekonomi makro yang dihadapi Indonesia, termasuk inflasi yang perlu dikendalikan serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Bank Indonesia mengambil langkah ini sebagai bagian dari upaya untuk menjaga kesehatan perekonomian secara keseluruhan. Namun, kebijakan ini memiliki konsekuensi yang dirasakan langsung oleh berbagai sektor, termasuk industri properti.
Para analis ekonomi memperkirakan bahwa dampak kenaikan BI Rate pada sektor properti akan terus terasa dalam beberapa waktu ke depan, terutama jika tren suku bunga acuan tetap tinggi. Pengembang perlu beradaptasi dengan kondisi pasar yang berubah ini, sementara calon pembeli juga harus lebih berhati-hati dalam menghitung kemampuan finansial mereka sebelum mengambil keputusan pembelian properti.
Situasi ini juga bisa mendorong inovasi di sektor properti, seperti pengembangan skema pembiayaan alternatif atau produk properti yang lebih terjangkau. Pengembang yang mampu beradaptasi dan menawarkan solusi yang relevan dengan kebutuhan pasar di tengah kondisi ekonomi yang dinamis akan memiliki keunggulan kompetitif. Sementara itu, pemerintah dan otoritas terkait diharapkan dapat terus memantau perkembangan pasar properti dan mencari kebijakan yang dapat menyeimbangkan stabilitas ekonomi dengan pertumbuhan sektor-sektor penting seperti perumahan.











