Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada (UGM) telah memanggil seorang perawat yang diduga melontarkan komentar tidak etis dan tidak berempati terhadap pasien pengguna Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan melalui media sosial. Kejadian ini memicu investigasi etik yang kini tengah berjalan di internal rumah sakit.
Dugaan pelanggaran etik ini mencuat setelah sebuah tangkapan layar berisi percakapan yang diduga dilakukan oleh perawat tersebut beredar luas di platform digital. Dalam percakapan itu, terdengar nada merendahkan dan cibiran terhadap pasien yang menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Pihak RSA UGM menegaskan bahwa komentar tersebut sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai profesionalisme dan etika pelayanan kesehatan yang dipegang teguh oleh institusi.
Menanggapi laporan ini, Direktur RSA UGM, dr. Arief Budiyanto, Sp.KK(K), Sp.DV(K), Ph.D., menyatakan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir tindakan semacam itu. “Kami memanggil yang bersangkutan untuk dimintai keterangan dan klarifikasi terkait dugaan tersebut. Kami sedang melakukan investigasi etik mendalam untuk memastikan fakta yang sebenarnya,” ujar dr. Arief Budiyanto pada Kamis (20/6/2024).
Ia menambahkan, RS Akademik UGM berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang terbaik dan berkeadilan bagi seluruh pasien, tanpa memandang status kepesertaan jaminan kesehatan mereka. “Kami sangat menyayangkan jika memang benar ada perawat kami yang berperilaku seperti itu. Ini jelas melanggar kode etik kedokteran dan keperawatan, serta prinsip pelayanan publik kami,” tegasnya.
Proses investigasi etik ini melibatkan tim internal yang akan mengumpulkan bukti-bukti, termasuk keterangan dari pihak terkait dan analisis terhadap konten media sosial yang dipermasalahkan. Hasil dari investigasi ini nantinya akan menjadi dasar penentuan sanksi yang sesuai jika terbukti bersalah. Pihak rumah sakit berjanji akan menindaklanjuti kasus ini secara profesional dan transparan, serta memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
RS Akademik UGM juga menghimbau kepada seluruh staf medisnya untuk senantiasa menjaga etika dan profesionalisme dalam setiap interaksi dengan pasien, baik secara langsung maupun melalui media digital. “Kami terus mengingatkan seluruh tenaga medis kami untuk selalu mengedepankan empati, kepedulian, dan rasa hormat kepada setiap pasien. Pelayanan yang humanis adalah prioritas kami,” tutup dr. Arief Budiyanto.
