Gelandang andalan Timnas Belanda, Tijjani Reijnders, akhirnya angkat bicara mengenai spekulasi yang sempat mengaitkannya dengan Timnas Indonesia. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Reijnders membeberkan alasan di balik keputusannya untuk tidak menerima tawaran membela Skuad Garuda pada tahun 2022 lalu, sebuah periode ketika Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) tengah gencar melakukan program naturalisasi pemain keturunan.
Kabar ketertarikan PSSI terhadap Tijjani Reijnders mencuat pada tahun 2022, di era kepemimpinan Mochamad Iriawan. Saat itu, Timnas Indonesia yang dilatih oleh Shin Tae-yong berupaya memperkuat tim dengan merekrut pemain-pemain diaspora yang memiliki darah Indonesia. Langkah ini terbukti sukses dengan bergabungnya beberapa pemain seperti Jordi Amat dan Sandy Walsh ke dalam skuad Merah Putih.
PSSI kala itu menunjukkan keseriusannya dengan membidik Tijjani Reijnders yang saat itu masih bermain untuk klub AZ Alkmaar. Ia masuk dalam daftar incaran bersama pemain lain seperti Mees Hilgers dan Kevin Diks. Meski demikian, kesempatan Reijnders untuk membela Indonesia tertutup setelah ia berhasil melakoni debutnya bersama tim nasional senior Belanda di ajang Kualifikasi Euro 2024.
Menariknya, kesempatan yang tidak diambil oleh Tijjani justru diambil oleh adiknya, Eliano Reijnders, yang kemudian memutuskan untuk memperkuat Timnas Indonesia. Tijjani mengaku terkejut dengan banyaknya perhatian dari publik Indonesia, terutama melalui pesan di media sosial Instagram, yang mendukungnya untuk bergabung dengan Timnas Indonesia.
"Saya masih ingat betul saat pertama kali dikaitkan dengan Indonesia," ujar Tijjani Reijnders, mengenang momen tersebut. Pengalaman itu datang di saat yang tidak terduga. "Saat itu saya sedang pergi ke spa bersama istri dan menyimpan ponsel saya di loker. Ketika saya mengambil ponsel itu setelah selesai, saya tidak menyangka apa yang terjadi."
Reijnders terkejut melihat lonjakan notifikasi di akun Instagramnya. "Akun Instagram saya meledak berkat para penggemar sepak bola Indonesia," ungkapnya dalam wawancara dengan Helden Magazine, yang kemudian dikutip oleh VoetbalPrimeur. Ia mengakui adanya komunikasi dengan PSSI, namun prioritas utamanya saat itu adalah menunggu panggilan dari Belanda.
Pemain yang pernah menimba ilmu di akademi PEC Zwolle ini menjelaskan bahwa Ketua PSSI pada waktu itu memang telah mengincarnya. "Saya berpikir ‘Bagaimana bisa begitu?’ Ternyata, saat itu presiden PSSI baru saja mengatakan bahwa mereka sedang mengamati saya," jelasnya. "Setelah itu, saya juga dihubungi, tetapi saya memutuskan untuk menunggu. Saya ingin bermain untuk tim nasional Belanda."
Tijjani Reijnders secara terbuka mengakui bahwa jika jalan menuju tim nasional Belanda tidak terbuka, maka Timnas Indonesia akan menjadi pilihan yang sangat serius baginya. "Pada saat itu, sama sekali belum pasti apakah saya akan bermain untuk Belanda. Tetapi setidaknya saya harus melakukan segala upaya untuk mengejar impian saya," tuturnya. "Andai saja itu tidak berhasil, maka bermain untuk Indonesia pasti akan menjadi salah satu pilihan."
Keputusan Tijjani untuk fokus pada tim nasional Belanda memang berbuah manis. Saat ini, ia telah mengoleksi 34 caps bersama timnas berjuluk De Oranje dan menjadi salah satu pemain kunci di lini tengah tim asuhan Ronald Koeman. Perannya di timnas Belanda semakin vital, menjadikannya pilar penting dalam perjalanan mereka di berbagai kompetisi internasional, termasuk saat ini tampil di Piala Dunia 2026.
Meskipun demikian, kisah Tijjani Reijnders menjadi pengingat akan dinamika proses naturalisasi pemain keturunan yang terus dilakukan oleh PSSI. Keputusan yang diambil oleh pemain bersangkutan tentu memiliki berbagai pertimbangan pribadi, termasuk ambisi untuk bermain di level tertinggi bersama tim nasional negara asal nenek moyang mereka, atau mengejar kesempatan di timnas negara tempat mereka lahir dan berkembang.
Kisah Tijjani Reijnders juga menyoroti bagaimana media sosial kini berperan besar dalam menyebarkan informasi dan membangun interaksi antara publik dengan para atlet. Dukungan dari suporter Indonesia yang masif melalui Instagram menunjukkan antusiasme yang besar terhadap potensi pemain keturunan yang bisa memperkuat timnas.
Meskipun pintu untuk Tijjani Reijnders memperkuat Timnas Indonesia kini telah tertutup rapat, cerita ini tetap relevan dalam konteks evolusi sepak bola Indonesia dan strategi PSSI dalam membangun tim yang kompetitif di kancah internasional. Fokus PSSI pun kini beralih kepada generasi pemain keturunan lainnya yang berpotensi memperkuat skuad Garuda di masa depan.
Perkembangan Timnas Indonesia di bawah Shin Tae-yong terus menunjukkan peningkatan yang signifikan, dibuktikan dengan performa yang semakin solid di berbagai ajang. Naturalisasi pemain keturunan menjadi salah satu strategi yang terus dieksplorasi untuk menambah kedalaman skuad dan kualitas permainan. Namun, pada akhirnya, keputusan untuk membela negara adalah hak prerogatif setiap pemain, yang didasari oleh berbagai faktor personal dan profesional.











