Indonesia Siapkan 100 Awak Kapal Induk untuk Pelatihan Intensif di Italia

Danu Ilham

Indonesia akan segera mengirimkan 100 personel satuan tugas pengawak pendahulu ke Italia pada 10 Juli 2026. Misi ini bertujuan untuk mengikuti pelatihan intensif di atas kapal induk Giuseppe Garibaldi, yang saat ini tengah dalam proses hibah ke Indonesia. Langkah strategis ini diharapkan memastikan kapal perang raksasa tersebut dapat segera dioperasikan secara maksimal dan tiba di tanah air sebelum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 TNI pada Oktober mendatang.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengungkapkan rencana keberangkatan tersebut dalam sebuah jumpa pers di gedung Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) di Cipulir, Jakarta Selatan, pada Kamis (18/6/2026). "Rencananya mudah-mudahan 10 Juli udah diberangkatkan (ke Italia)," ujar Laksamana Ali.

Para prajurit yang terpilih untuk misi penting ini telah melalui proses seleksi yang ketat. Mereka dipilih berdasarkan rekam jejak pengalaman yang relevan dengan spesifikasi tugas di kapal perang, dengan penekanan pada penguasaan materi teoretis hingga praktik langsung. Kesiapan personel ini menjadi kunci utama agar kapal induk dapat segera beroperasi penuh setibanya di Indonesia.

Harapan besar disematkan agar kapal induk beserta awaknya dapat hadir di Indonesia sebelum tanggal 5 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan HUT TNI. "Harapan kita bisa hadir (kapal induk beserta para awak) sebelum 5 Oktober 2026. Itu harapan kita, tapi kita lihat perkembangan situasi seperti apa, nanti kita mengikuti saja," jelas Laksamana Ali lebih lanjut.

Akuisisi kapal induk Giuseppe Garibaldi ini merupakan bagian dari upaya modernisasi alutsista pertahanan laut Indonesia. Pemerintah Indonesia telah mengalokasikan anggaran sebesar 450 juta dolar AS, atau setara dengan Rp7,6 triliun, khusus untuk proses modernisasi kapal tersebut. Angka ini belum termasuk dana sebesar 550 juta dolar AS yang dialokasikan untuk pengadaan helikopter operasional yang akan mendukung kapal induk ini.

Proses identifikasi nama resmi untuk kapal perang seberat 30 knot dengan panjang 180,2 meter ini masih terus berjalan. Nama resmi kapal tersebut belum ditetapkan karena masih menunggu keputusan final dari tingkat pimpinan tertinggi. "Namanya belum ditentukan, nanti kami nunggu mungkin dari bapak presiden atau dari menteri pertahanan (Menhan) akan memberikan usulan namanya," ungkap Laksamana Ali. Beberapa usulan nama yang mengemuka antara lain Gadjah Mada, Panglima Soedirman, dan beberapa nama lainnya yang memiliki nilai sejarah bagi Indonesia.

Proses administrasi dan persiapan teknis untuk pengiriman kapal yang dibangun oleh Fincantieri ini terus dikawal secara ketat. Kementerian Pertahanan RI bekerja sama dengan otoritas militer Italia memastikan seluruh tahapan berjalan lancar. "Kapal induk Garibaldi itu proses hibah, sedang berjalan dan sudah dalam proses tahapan untuk persiapan pengiriman ke Indonesia," ujar Karo Infohan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Sirait pada Selasa (2/6/2026).

Namun, situasi geopolitik global saat ini, khususnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz akibat konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran, berpotensi menimbulkan kendala pada lini masa distribusi logistik global. "Ya dengan kondisi Selat Hormuz, yang konflik juga di sana ya, jadi mungkin ada keterbatasan distribusi, waktu pengiriman dan sebagainya," ucap Brigjen Rico, mengindikasikan adanya potensi penundaan jika situasi memburuk. Kendati demikian, pihaknya optimis bahwa kapal dapat tiba di Indonesia pada tahun ini.

Kebutuhan personel untuk mengoperasikan kapal berkemampuan angkut helikopter ini diproyeksikan akan melonjak signifikan. Saat operasional penuh, kapal ini diperkirakan membutuhkan lebih dari 500 orang kru. Jumlah tersebut mencakup kru inti navigasi hingga tim penerbangan khusus yang bertugas mengelola sistem penerbangan dan helikopter. "Personelnya itu ada sekitar 500 pelaut yang harus mengawaki. Mulai dari sekarang sampai level perwiranya harus memiliki kompetensi khusus sebagai pengawak kapal induk," jelas Yayan, seorang pakar, dalam sebuah diskusi daring bertajuk Indonesia’s Blue Water Transition: Why High-Value ASW/ AAW Assets Will Decide Its Credibility pada Rabu (25/2).

Selain kesiapan personel, infrastruktur pendukung seperti fasilitas sandar dan pemenuhan logistik jangka panjang menjadi fokus utama persiapan komando armada. Hal ini penting untuk memastikan perpanjangan usia pakai kapal hingga tahun 2040 dapat tercapai secara optimal. "Bisa kita bayangkan sandar di suatu tempat membutuhkan dukungan logistik kru yang 500 orang. Itu hanya kru inti saja. Kru untuk penerbangan, sistem aviation dan sebagainya," tambah Yayan, menyoroti kompleksitas dukungan logistik yang dibutuhkan.

Karakteristik kapal bekas Italia ini dinilai sangat sesuai dengan doktrin pertahanan perairan dalam Indonesia. Kapal ini dinilai mampu mendukung berbagai misi krusial, mulai dari kedaruratan medik hingga evakuasi taktis Warga Negara Indonesia (WNI) di wilayah-wilayah krisis yang berpotensi membutuhkan kehadiran kapal perang berkapasitas besar. Pengadaan kapal induk ini menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat armada lautnya dalam rangka menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional di perairan internasional.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All