Perhelatan besar-besaran ribuan migran ilegal dari Maroko yang memasuki wilayah otonomi Spanyol di Pulau Ceuta pada Mei 2021 lalu kini memicu gelombang spekulasi di jagat maya. Sejumlah besar pengguna media sosial di berbagai belahan dunia ramai memperbincangkan kemungkinan adanya dalang di balik peristiwa tersebut, dengan Israel disebut-sebut sebagai salah satu pihak yang diduga terlibat.
Peristiwa yang terjadi pada pertengahan Mei 2021 ini melibatkan lonjakan dramatis jumlah migran yang menyeberangi perbatasan Ceuta. Laporan menyebutkan angka sekitar 50 ribu migran ilegal asal Maroko yang dilaporkan berhasil masuk ke wilayah Spanyol tersebut. Tingginya angka migran yang datang secara tiba-tiba ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai organisasi dan sumber daya di baliknya.
Di tengah kehebohan tersebut, berbagai teori dan spekulasi beredar luas di platform media sosial. Salah satu narasi yang paling banyak dibicarakan adalah dugaan keterlibatan Israel. Para netizen, melalui diskusi dan unggahan mereka, mencoba menghubungkan peristiwa ini dengan berbagai agenda geopolitik yang diduga melibatkan negara tersebut. Namun, perlu digarisbawahi bahwa hingga kini, belum ada bukti konkret yang secara resmi mengaitkan Israel dengan serbuan migran ke Ceuta.
Pemerintah Spanyol sendiri saat itu telah menyatakan keprihatinan mendalam atas masuknya ribuan migran tersebut. Menteri Luar Negeri Spanyol, Arancha Gonzรกlez Laya, pada Mei 2021, mengungkapkan bahwa ada sejumlah faktor yang memicu lonjakan migran, termasuk situasi di Maroko. Ia juga sempat menyoroti adanya hubungan antara penarikan duta besar Maroko dari Israel dengan peristiwa ini. “Ada begitu banyak faktor yang mendorong orang untuk datang ke Ceuta. Ada faktor-faktor yang terkait dengan situasi di Maroko, dan kita juga melihat bahwa ada hubungan, ada kontak antara Maroko dan Israel yang telah berubah,” ujar Laya kala itu.
Pernyataan Laya tersebut, meskipun tidak secara langsung menuding Israel sebagai dalang, memberikan celah bagi spekulasi publik. Perubahan hubungan diplomatik antara Maroko dan Israel yang terjadi beberapa bulan sebelumnya, yakni pada Desember 2020, menjadi salah satu poin yang diangkat oleh para pengguna media sosial dalam mengaitkan Israel dengan peristiwa Ceuta. Kompleksitas hubungan internasional dan dinamika migrasi di kawasan Afrika Utara dan Eropa Selatan tampaknya terus menjadi lahan subur bagi berbagai interpretasi, terutama di era digital yang memungkinkan penyebaran informasi dan spekulasi secara cepat.
