Krisis migrasi yang melanda Ceuta, sebuah wilayah otonom Spanyol di pesisir utara Maroko, memicu perseteruan panas di antara pejabat Israel dan Spanyol. Perdebatan sengit ini bahkan meluas ke ranah media sosial, menambah kompleksitas situasi yang sudah genting.
Ketegangan bermula ketika Duta Besar Israel untuk Spanyol, Rodica Radian-Gordon, memberikan tanggapan terhadap pernyataan seorang pejabat Spanyol mengenai penanganan migran. Dalam sebuah wawancara, pejabat Spanyol tersebut dilaporkan mengkritik Israel terkait perlakuannya terhadap warga Palestina. Radian-Gordon kemudian membalasnya melalui akun Twitter-nya, @RadianGordon, pada Senin (24/5/2021), menyatakan, “Saya terkejut membaca pernyataan dari seorang pejabat Spanyol yang menyamakan situasi di Gaza dengan apa yang terjadi di perbatasan Spanyol-Maroko.” Ia menambahkan, “Tindakan yang diambil oleh Israel dalam mempertahankan diri dari serangan teroris tidak dapat dibandingkan dengan penanganan migrasi.” Pernyataan ini secara implisit merujuk pada situasi di Ceuta di mana ribuan migran, banyak di antaranya berasal dari Maroko, berhasil masuk ke wilayah Spanyol.
Tidak tinggal diam, tanggapan Radian-Gordon menuai reaksi dari pihak Spanyol. Menteri Luar Negeri Spanyol, Arancha González Laya, turut memberikan komentar tajam. Melalui akun Twitter-nya, @AranchaGlezLaya, ia membalas kicauan sang duta besar pada hari yang sama, “Perbandingan yang Anda buat tidak pantas dan tidak benar.” Laya menegaskan, “Spanyol menangani migrasi dan perlindungan pengungsi sesuai dengan hukum internasional dan nilai-nilai kemanusiaan kami.” Ia juga menekankan perbedaan mendasar antara situasi keamanan Israel dan tantangan migrasi yang dihadapi Spanyol. Pernyataan ini memperjelas perbedaan pandangan kedua negara dalam menyikapi isu migrasi dan hak asasi manusia.
Krisis di Ceuta sendiri telah mencapai puncaknya pada awal pekan ini, ketika ribuan migran, termasuk anak-anak, dilaporkan nekat berenang menyeberangi perbatasan laut dari Maroko ke Ceuta. Jumlah migran yang masuk mencapai lebih dari 6.000 orang dalam beberapa hari terakhir, menimbulkan kekhawatiran besar bagi otoritas Spanyol terkait kapasitas penampungan dan penanganan kemanusiaan. Situasi ini semakin diperumit oleh hubungan diplomatik yang tegang antara Spanyol dan Maroko, yang diduga terkait dengan pengakuan Spanyol terhadap posisi Maroko mengenai Sahara Barat.
